Home Opini Berpikir Reflektif Kebutuhan Pemimpin Bisa Memimpin
Berpikir Reflektif Kebutuhan Pemimpin Bisa Memimpin

Berpikir Reflektif Kebutuhan Pemimpin Bisa Memimpin

by Imam Nawawi

Seorang pemimpin memang mudah dikenang jika membuat karya-karya monumental secara fisik. Seperti Bung Karno dengan Monas, Soeharto dengan Masjid Pancasila, SD Inpres dan lain sebagainya. Termasuk Anies Baswedan dengan JIS. Namun, masihkah ukuran itu relevan pada zaman post human era seperti sekarang? Tampaknya pemimpin era sekarang butuh kesadaran berpikir reflektif untuk cakap memimpin dengan keagungan akhlak.

Keagungan akhlak hanya akan jadi prioritas seorang pemimpin saat ia punya kesadaran bagaimana menimbang-nimbang segala hal dengan nilai, rasa dan tanggung jawab kepemimpinan. Jadi bukan semata soal dirinya akan orang kenal seperti apa. Tetapi keteladanan apa yang dapat dihadirkan.

Lihatlah bagaimana Umar bin Khattab yang tak membangun satu gedung pun tetap dikenang karena kemuliaan akhlaknya?

Pemimpin yang memiliki budaya berpikir reflektif akan selalu aktif dan bersemangat dalam mengevaluasi dan merenungkan setiap pikiran dan tindakannya. Lebih jauh pemimpin dengan budaya berpikir reflektif juga sangat senang melakukan analisa untuk mendapat insight terbaik dalam memaknai situasi dan kondisi kini dan mendatang.

Pendek kata, pemimpin dengan budaya berpikir reflektif tak sempat memikirkan brand-nya sendiri.

Baca Lagi: Facebook dan Kabar Kebaikan

Ia aktif untuk melakukan yang tepat dilakukan. Ia tak sempat merencanakan bagaimana dirinya diabadikan. Karena melalui berpikir reflektif itu sendiri ia akan menjadi pemimpin yang tak akan pernah orang lupakan.

Contoh dari Ustadz Abdullah Said

Ustadz Abdullah Said pernah memberikan demonstrasi bagaimana berpikir reflektif itu. Terutama dalam hal menimbang apakah iman ini sudah benar atau masih perlu perbaikan lebih jauh.

Ungkapannya kira-kira seperti ini: “Abu Bakar penuh kasih sayang, kita penuh kebencian. Umar bin Khattab penuh kepedulian dan ketegasan, kita penuh keraguan dan ketakutan. Apa yang membedakan ini. Quran yang kita baca, itu juga yang Abu Bakar baca. Tapi kenapa hasilnya berbeda?”

Kepemimpinan

Jika kita tarik dalam level kepemimpinan Indonesia, kenapa dahulu lahir orang seperti Bung Karno, Bung Hatta, Agus Salim, M. Natsir, M. Roem, hadir penuh percaya diri ingin membangun negara merdeka. Dan, sekarang mengapa tidak lahir pemimpin yang seperti itu?

Baca Juga: Maju Terus Titik!

Bukankah dahulu semua serba terbatas. Lalu kenapa yang terbatas melahirkan manusia penuh kualitas. Dan, mengapa sekarang banyak anak-anak muda yang tak punya pikiran untuk berkorban bagi agama, bangsa dan negara.

Jika hal ini terus menari dalam kepala, mengusik hati dan menyodok perasaan, maka seorang pemimpin tidak akan sibuk bermain catur politik belaka.

Ia pasti akan berpikir tentang akhlak, keteladanan dan tentu saja pembangunan-pembangunan yang nyata. Bukan pembangunan palsu, yang dasarnya adalah utang dan hasilnya adalah penderitaan rakyat.

Inovasi

Indonesia ke depan butuh pemimpin yang kaya pemikiran, sehingga bisa menuangkan inovasi pembangunan. Ketika pemimpin punya tradisi berpikir reflektif, peluang munculnya inovasi sangat terbuka.

Hal ini karena sang pemimpin senantiasa terbuka dengan ide-ide baru dan pengembangan pendekatan kreatif dalam menyelesaikan berbagai macam persoalan. Bukankah kita tahu sejarah Umar bin Abdul Aziz yang dalam tempo 2 tahun mampu menyelesaikan soal-soal mendasar rakyatnya?

Jika sejarah telah memberi bukti, apakah ada kesulitan untuk mengulangi selain karena ketidakcakapan cara berpikir pemimpin dalam mengemban amanahnya?*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment