Di tengah arus kehidupan modern yang penuh distraksi, banyak orang terjebak dalam obrolan sia-sia dan pikiran tak bermanfaat. Padahal, akal pikiran yang kita miliki seharusnya menjadi alat terbaik untuk menuntun diri menuju kebaikan. Arahnya mesti mendorong kita mampu berpikir jernih demi kebaikan diri. Jangan asal hidup, kemudian tanpa sadar sebenarnya kita menuju jalan kebinasaan.
Mengenai hal itu, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi pernah mengingatkan agar kita tidak menggunakan akal hanya untuk meributkan hal-hal remeh, tetapi untuk menimbang maslahat dan mafsadat—manfaat dan mudarat—dari setiap tindakan kita.
Saya juga pernah mendengar Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust. Abdurrahman Muhammad menegaskan bahwa dalam hidup jangan punya pikiran atau cita-cita kecil. Hal ini karena Allah Maha Besar.
Inilah renungan penting tentang pengendalian diri. Seringkali manusia tertarik mengikuti hawa nafsu tanpa memikirkan akibatnya.
Akhirnya, langkah yang diambil justru membawa kerugian, bahkan membinasakan diri sendiri.
Padahal, orang yang berakal adalah mereka yang berani mengerem dorongan nafsu, lalu menimbang mana yang membawa manfaat jangka panjang dan mana yang hanya memuaskan kesenangan sesaat.
Pesan Mendalam Pengendalian Diri
“Akal pikiran yang kalian gunakan untuk memikirkan dan mendialogkan berbagai hal yang sia-sia seharusnya kalian gunakan untuk mengekang jiwa kalian dari mengikuti hawa nafsunya.
Yaitu dengan cara kalian memikirkan dan menimbang antara perkara maslahat dan perkarafa mafsadat diri kalian.
Setelah itu, kalian menjauhkan diri kalian dari perkara-perkara mafsadat yang membahayakan tersebut dan menuntunnya mengikuti perkara yang bermanfaat.
Inilah karakter orang berakal yang mencintai kebaikan dan menginginkan cita-cita tertinggi bagi hidupnya sendiri.
Adapun kebalikan dari orang yang seperti ini adalah orang yang kurang berakal atau tak berakal sama sekali, tak punya semangat kebaikan, membinasakan hidupnya sendiri, dan menjerumuskan eksistensinya dalam kerugian dan kebinasaan…”
Itu adalah ungkapan dari Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dalam buku karya Maulana La Eda berjudul “Mutiara Ilmu dan Hikmah syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Ulama Nusantara Pengajar di Masjidil Haram.”
Membiasakan Berpikir Jernih
Bayangkan jika kita membiasakan berpikir jernih sebelum bertindak. Kita akan terhindar dari banyak penyesalan.
Berpikir jernih memberi ruang untuk memilih cita-cita mulia daripada kesenangan semu. Ia menuntun kita meninggalkan hal-hal berbahaya yang bisa menjerumuskan, dan sebaliknya mendorong langkah pada perkara yang membangun kualitas hidup.
Bahkan dalam skala sederhana, misalnya dalam memilih pertemanan atau pola konsumsi harian, pengendalian jiwa menjadi kunci.
Orang yang mencintai hidupnya dengan sungguh-sungguh tidak akan membiarkan kebodohan atau kesembronoan merusak masa depannya. Mereka berpegang pada visi yang lebih tinggi—yakni meraih cita-cita mulia dengan meniti jalan yang benar.
Kini saatnya kita beraksi. Gunakan akal sehat dan daya pikir positif untuk mempertimbangkan setiap pilihan.
Jauhi perbuatan yang merugikan, dan arahkan hidup pada perkara yang bermanfaat. Karena sejatinya, mencintai diri sendiri adalah dengan menjaga diri dari kebinasaan.
Mari jadikan pesan ini sebagai pengingat abadi: berpikirlah sebelum bertindak, kendalikan diri sebelum menyesal, dan gapailah cita-cita tertinggi dengan akal yang jernih. Semoga Allah membimbing kita semua.*


