Hari ini saya membagikan foto tentang kegiatan BMH dan Visitrip kemarin (25/5/25) ke Facebook dan beberapa kolega. Ternyata mereka memberi respon positif. Berharap kegiatan nonton Film “Insya Allah Berkah” bersama 50 anak yatim itu bisa mereka gelar di tempat masing-masing. Saya teringat bahwa itu adalah bagian dari komunikasi berbasis bukti.
Dalam teori, itu yang disebut dengan Evidence-Base Communication. Yakni pendekatan komunikasi yang menggunakan data, fakta dan informasi yang valid, meyakinkan.
Ketika kita bisa berkomunikasi seperti itu, orang akan percaya. Responnya pun bukan lagi pertanyaan yang berasal dari keraguan. Tapi bagaimana mereka bisa melakukannya juga.
Himpun Data Sebagai Bukti
Suatu waktu seorang teman bercerita. Ia pernah memanggil teman-temannya untuk bertemu dengan seorang investor, sebut begitu sederhananya.
Ia pun meminta teman-temannya menyiapkan bukti-bukti yang ditampilkan dalam file presentasi. Tapi ternyata itu tidak teman-temannya lakukan.
Pas momen pertemuan, teman-temannya begitu banyak menjelaskan dengan cerita. Tanpa ada satupun bukti atau data yang bisa ditunjukkan.
Mau tahu hasilnya? Kata orang zonk. Tidak ada kesepakatan atau dukungan yang diperoleh. Karena orang tidak saja bisa mendengar tapi sangat bisa melihat.
Tantangan
Bagi sebagian pihak, komunikasi berbasis data ini sudah kebutuhan. Mereka pun terus meningkatkan improvisasinya dalam hal ini.
Namun, sisi lain, masih ada pihak yang tak mengenal hal ini dengan baik. Akibatnya sebatas mengirimkan data berupa foto dan dasar untuk sebuah berita pun tak mampu mereka lakukan.
Padahal, pada era seperti sekarang, kita perlu masuk ke ruang digital. Bukan untuk pamer, riya’ dan sombong, tapi untuk mengisi dunia maya itu dengan informasi kebaikan.
Saya pernah membakar kesadaran teman-teman saat satu momen. “Kita bisa berbuat baik sehebat-hebatnya. Tapi kalau itu tidak kita kabarkan kepada dunia di era digital itu, kebaikan itu akan dianggap tidak ada.”
Memang bukan masalah secara akidah. Tapi sebagai makhluk sosial, bagaimana kita bisa meyakinkan orang bahwa kita telah melakukan hal itu?
Pada akhirnya kita bisa sadari bahwa hal ini sangatlah penting.
Kita tidak bisa mengabaikannya. Komunikasi berbasis bukti adalah cara cerdas dan bertanggung jawab untuk berinteraksi di dunia media sosial yang dinamis dan penuh informasi.
Dengan memadukan fakta, data, dan penyajian yang menarik, kita bisa memberikan nilai tambah bagi audiens, membangun reputasi positif, dan turut mencerdaskan publik di tengah arus informasi yang begitu deras. Sekali lagi, berikan bukti dalam komunikasi. Insya Allah orang lain akan menyesuaikan.*
