Kalau mendengar kata ketidakpastian, apa yang ada dalam pikiran kita? Padahal sehari-hari, sepanjang sejarah hidup manusia, nyaris semua berenang dalam ruang ketidakpastian.
Tidak perlu jauh. Hari-hari, warga Jabodebek, meski telah memilih jadwal naik kereta listrik ke Jakarta di atas jam 8, bukan jaminan kereta tidak penuh. Saya mengalami itu hari ini (27/5/25).
Start dari Stasiun Depok, layar HP menunjukkan pukul 08:30. Tapi kereta penuh. Sampai di stasiun Tebet pun sama. Bahkan kereta setelah keberangkatanku, juga tidak berbeda.
Pedagang, ojol, serta pekerja informal, setiap hari bergulat dengan ketidakpastian. Tapi yang sebenarnya masalah bukan ketidakpastian itu sendiri.
Walakin tentang apa tujuan dari kita mengarungi ketidakpastian itu. Lebih dari itu kepada siapa kita bersandar dan berlindung dalam gelombang ketidakpastian.
Cara Berenang
Berenang dalam ketidakpastian butuh seni, ilmu sekaligus iman.
Cara pertama, kita mesti hadapi ketidakpastian itu. Kita tak mungkin menghindari apa yang telah menjadi “adat” dalam kehidupan manusia.
Cara kedua, kendalikan fokus dan respon. Jangan mudah terguncang oleh keadaan yang tak pasti. Sebaliknya latih diri untuk tenang dan tetap fokus. Hal lain yang tak bisa kita kendalikan, jangan jadi beban pikiran. Lepaskan!
Cara ketiga, sehatkan mental. Ketidakpastian datang tiba-tiba, mengejutkan. Itulah alasan mengapa ada yang stres dan cemas. Namun, langkah terbaik adalah segera ingat kepada Allah. Pusatkan pikiran pada tujuan, niat dan penilaian Allah. Langkah ini akan menjaga hati stabil.
Plong Setelah Berlalu
Seperti penumpang KRL yang tiba di stasiun tujuan. Ia keluar dan lepas dari padatnya situasi di dalam gerbong kereta, hatinya plong.
Orang dahulu mengatakan, tak ada bahagia seterusnya. Pun tak mungkin ada orang menderita selamanya. Semua serba sementara.
Alhasil, kita mesti fokus pada niat, tujuan dan cara. Jangan menjadi orang yang takut dalam mengisi kehidupan ini.
Bukankah ketika Fir’aun mengejar Nabi Musa dan Bani Israel, Haman dan tentara Fir’aun yakin bisa menangkap dan membunuh Nabi Musa?
Tetapi apa yang terjadi? Fir’aun dan seluruh bala tentaranya justru tenggelam dan binasa.
Jadi, jangan salah. Dalam hidup ini ada yang lebih esensial dari pada sebatas rutinitas gerak harian dalam mencari rupiah. Yaitu kekuasaan Allah SWT.
Ketika Allah mau, yang hari ini lemah akan menjadi kuat. Sebaliknya yang kini kuat besok akan lemah. Tak ada yang tahu kecuali Allah. Itulah mengapa kita diperintah untuk menyembah Allah semata. Karena satu-satunya yang pasti adalah janji Allah semata.*


