Home Kisah Berbagi Pengalaman, Buku, Hingga Agenda Kemajuan
Berbagi Pengalaman, Buku, Hingga Agenda Kemajuan

Berbagi Pengalaman, Buku, Hingga Agenda Kemajuan

by Imam Nawawi

Malam belum terlalu larut (16/5/24), saya yang baru saja menuntaskan perjalanan dari Tegal – Cirebon, berkesempatan duduk bersama penulis produktif, Syamsudin Kadir dan Kang Asep Juhana. Syamsuddin biasa kusapa dengan panggilan Bang. Poin menarik dari pertemuan itu adalah tentang berbagi. Kami saling berbagi pengalaman, Bang Syamsudin memberiku hadiah buku dan kami berdialog bagaimana menghasilkan sebuah agenda kemajuan.

Tiga hal itu tidak sulit untuk hadir, karena saya dan Bang Syamsudin serta Kang Asep memiliki hobi yang sama, yakni menulis. Meskipun Kang Asep belakangan mengaku tidak begitu aktif menulis lagi. Dan, dari kami bertiga, Bang Syamsudin yang jauh lebih intens membangun interaksi dengan banyak pihak.

Ide dalam Pertemuan

Idealnya setiap pertemuan harus menghasilkan ide. Dan, untuk mendapatkan ide yang benar-benar hebat, cobalah menjelajahi berbagai tema diskusi yang lebih luas, melampaui ide-ide yang biasa, jelas, dan realistis. Pikirkan gagasan yang menarik, gila, bahkan menakutkan. Kumpulkan semua ide tersebut dan bersiaplah untuk bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang benar-benar dapat jadi kenyataan.

Baca Juga: Diskusi Politik Progresif Beradab

Nah, malam itu, Bang Syamsudin, mulai sampai pada satu keyakinan, bahwa hidup harus bisa berperan. Melalui skill menulisnya, Bang Syamsudin kerap terbang ke berbagai titik, terutama di wilayah NTB dan NTT, termasuk DIY dan Jatim. Mendengar itu, saya sangat bahagia. Ada penulis yang bukan saja produktif tetapi juga aktif dalam pergaulan.

Beberapa interaksi dengan pihak penting di NTB, tepatnya daerah Lombok Tengah, Bang Syamsudin sampai pada level mampu mendorong lahirnya satu kebijakan penting bagi pembangunan SDM di sana, yakni perihal kebijakan beasiswa untuk santri yang masuk fakultas kedokteran. Kisah ini ia ulang beberapa kali, untuk menegaskan betapa sangat bahagia dirinya.

Buku Santri Negarawan

Selain memberikan pengalamannya, Bang Syamsudin juga memberi hadiah buku, judulnya “Santri Negarawan dari Santri untuk Indonesia.”

Menarik paparan dari Aditya Irawan yang menulis soal santri dengan judul: “Karakter Santri Unggul Indonesia.”

Pertama, santri itu punya mental religiusitas. Kedua, paham nasionalisme. Ketiga, punya mental mandiri. Keempat, mau dan aktif dalam gotong royong. Dan, kelima, punya nilai integritas. Nah, santri yang punya lima karakter itu, pasti bisa menjadi pemimpin yang membawa kemajuan bagi umat dan bangsa Indonesia.

Santri di Kota Tegal

Sisi yang menarik adalah buku ini saya terima usai saya duduk bersama santri dari Pesantren Darul Hijrah di Kota Tegal, murid dari Habib Muhammad Al-Kaff.

Setelah pertemuan di aula bersama habib dan santri, Ikhwan, teman saya dalam perjalanan itu bertanya. “Bagaimana ya Kak Imam, kok santri di sini bisa disiplin seperti itu?”

“Kalau yang antum maksud adalah kedisiplinan, kerapian, dari sandal hingga pakaian santri, serta ketaatan mereka menjalani proses mengaji, maka itu sudah tampak dari bagaimana adab mereka kepada guru. Saya melihat langsung bagaimana santri yang tadinya aktif menghafal, duduk rapi, seketika berdiri memberi penghormatan kepada Habib, kala beliau datang memasuki aula.

Sama dengan karakter santri unggul itu, saya katakan, bahwa semua itu adalah syarat-syarat menuntut ilmu. Jika mereka para santri punya niat, tekad, adab dan komitmen dengan ilmu dan memuliakan guru, maka syarat-syarat mereka untuk cepat menguasai ilmu dan berkarakter dengan ilmu itu akan semakin cepat dan terbuka.

Hal ini membuatku ingat akan satu ungkapan, bahwa dalam hidup ini tak ada yang kebetulan. Termasuk kala saya bertemu dengan adab santri lalu mendapatkan buku tentang santri. Alhamdulillah.

Jangan Puas

Namun, kami kembali kepada satu hal penting setelah berbincang-bincang nyaris dua jam itu. Yakni bagaimana kita tidak puas dengan pengalaman dan pengetahuan itu. Harus ada agenda kemajuan yang jadi komitmen kita bersama. Sebab tanpa adanya regenerasi, kebaikan dan kemuliaan ini hanya menunggu waktu untuk berhenti lalu tiada.

Baca Lagi: Post Human Era, Apalagi Itu?

Oleh karena itu, skill Bang Syamsudin, Kang Asep dan saya harus bisa dipadukan dalam satu harmoni gerakan pencerdasan anak muda. Langkah ini penting agar kebaikan terus menyala, turun temurun dan tidak pernah padam.

Beberapa kesepahaman pun tercipta, mulai dari membentuk komunitas yang dapat mewadahi anak muda teraktualisasi pikiran dan gagasannya, hingga bagaimana membuat forum-forum pemberdayaan kaum muda untuk tidak tinggal diam dalam dinamika hidup yang terus menggelinding seperti sekarang.

Kesadaran akan hal itu membuat kita selamat dari jebakan merasa puas, merasa telah berbuat dan berarti. Mas Reza Indragiri saat bertemu saya di Depok mengatakan: “Kita harus terus mencari, Mas. Kebaikan apa yang bisa saya lakukan hari ini. Jangan hanya berpikir, berapa uang yang bisa saya dapatkan hari ini.”

Dan, benarlah ungkapan Bung Karno, bahwa orang dikatakan muda itu ada tidaknya agenda perjuangan. “Kalau pemuda sudah berumur 21-22 tahun sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak bergiat untuk tanah air dan bangsa, pemuda begini sebaiknya digunduli saja kepalanya.”

Jadi, inilah alasan kuat mengapa agenda kemajuan harus kita canangkan dan wujudkan.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment