Home Hikmah Bencana Alam, Bukan Soal Sebab Empiris Semata, Lalu?
Bencana Alam, Bukan Soal Sebab Empiris Semata, Lalu?

Bencana Alam, Bukan Soal Sebab Empiris Semata, Lalu?

by Imam Nawawi

Selama 2024, setidaknya sampai Mei, beberapa bencana alam melanda beberapa titik di Indonesia: seperti Demak hingga Sumatera Barat. Namun, berita kebanyakan menelusuri apa sebab empiris dari musibah itu. Padahal dalam hidup ini, tak semua hal semata “karena” alam. Sebab dalam keyakinan kita ada Tuhan yang mengendalikan alam ini.

Peneliti BRIN, Erma Yulihastin kepada BBC News Indonesia berkata, “Kebanyakan banjir itu kan dari tanggul jebol satu-satu, pasti ada sesuatu yang ekstrem, deras, tidak bisa nampung. Akhirnya tanggul itu enggak kuat, satu per satu, beruntun”.

Faktanya memang begitu (tanggul jebol) dan nalar orang umumnya juga akan seperti itu. Apalagi Kepala BPBD Demak, Agus Nugroho juga mengatakan hal yang sama.

Baca Juga: Banjir Lahar Lumajang, Mari Semakin Sadar

Ia menegaskan bahwa hampir seluruh wilayah di Kabupaten Demak tergenang banjir setelah enam tanggul sungai jebol karena “volume air yang sangat luar biasa”.

“Ada yang Ekstrem”

Tanggul jebol sebenarnya adalah akibat. Kalau meminjam istilah dari orang BRIN itu “ada yang ekstrem, deras, dan tidak bisa nampung” maka itu adalah air. Pertanyaannya mengapa air bisa deras alirannya, ekstrem dan melebihi kapasitas tanggul. Apakah itu maunya air?

Dalam kata yang lain, manusia sebenarnya secara tidak terbuka mengakui ada sesuatu di balik hal yang empiris yang bisa manusia indera. Namun, karena acuannya adalah cara berpikir saintifik belaka, maka cara memahami bencana alam cukup seperti itu. Perubahan iklim, cuaca global, dan lain sebagainya.

Akibat dari kesimpulan yang seperti itu apa, manusia tidak bisa dan tidak mudah (mungkin juga tidak mau) introspeksi diri. Apakah iya banjir karena alam semata? Tidakkah ada kelalaian manusia karena ambisi ekonomi dan lain sebagainya?

Introspeksi Diri

Sebagai insan berakal tentu bencana alam patut menjadikan kita mengambil langkah tegas: introspeksi diri.

Introspeksi diri mendorong orang melihat dan merenungkan pikirannya selama ini, emosi dan orientasi hidupnya.

Karena ini fenomenanya adalah bencana alam yang paling penting melakukan introspeksi diri adalah pemimpin dan pejabat yang wilayahnya terkena. Meskipun rakyat biasa juga harus melakukannya.

Baca Lagi: Yang Membahagiakan Hidup Kita

Jika tanggul jadi sebab (walaupun sebenarnya akibat) mengapa tidak ada perawatan. Kalau memang karena iklim global, mengapa hanya wilayah ini yang terkena. Mengapa wilayah lain tidak terkena?

Pada level ini, pemimin atau pejabat setempat bisa menetapkan prioritas perlindungan terhadap masyarakat. Setidaknya kalaupun tidak bisa mencegah, penanganan pasca bencana alam dapat berjalan dengan baik. Masyarakat tidak terlalu lama menderita, segera ada kebijakan yang memberikan solusi.

Amirul Mukminin, Umar bin Khattab ra pernah berkata, “Aku akan segera memperbaiki jalan (yang rusak) itu sebab aku takut diminta pertanggungjawaban di hadapan allah SWT, (meski) hanya karena ada seekor unta yang terjungkal.”

Kebiasaan Buruk

Masyarakat biasa juga perlu melakukan introspeksi diri, bagaimana adab terhadap alam, terutama sungai.

Seorang teman pernah hadir dalam satu event di sebuah desa yang ada aliran sungai.

Ternyata masyarakat setempat membuang sampah ke dalam sungai. Setiap hari hal itu terjadi.

Dalam kata yang lain, alam ini tidak mungkin berdusta. Banjir, tanggul jebol, ataupun hujan yang sangat deras, kita sebut sebagai biang dari bencana alam, karena kita yang kurang atau tidak mau jujur.

Apakah rakyat dan pejabat benar-benar mencintai alamnya? Apakah benar membiarkan sungai sebagai tempat aliran sampah? Dan, alih fungsi lahan pertanian jadi perumahan, sudahkah melalui proses kajian yang mendalam?

Kita tidak menuntut jawaban siapapun. Tapi dari bencana alam yang terjadi, mari Iqra’, mari membaca dan mari introspeksi diri.

Jangan sampai kita hidup dengan sebuah keyakinan kepada Tuhan, namun kita selalu abai terhadap tuntunan hidup yang menjamin keselamatan hidup kita semua. Dan, akhirnya hanya bisa menuding tanggul, hujan dan apapun yang penting bukan dirinya sendiri.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment