Home Berita Belanda “Mengaku” Gila, Kenapa?
Belanda "Mengaku" Gila, Kenapa?

Belanda “Mengaku” Gila, Kenapa?

by Imam Nawawi

Mentari masih malu-malu menampakkan sinar. Mata saya sudah memburu informasi baru di waktu yang sejuk nan segar itu, Alhamdulillah. Ada satu berita, yang kemudian saya tuangkan di sini. Berita tentang Belanda mengaku gila, kenapa?

Kita semua tahu belakangan kuat pemberitaan koleksi barang kuno milik Indonesia, seperti arca-arca Singasari, akan Belanda kembalikan kepada Indonesia.

Baca Juga: Menggali Mutiara Hidup dari M. Natsir dan Abdullah Said

Nah, dalam laporan Majalah Tempo, Ahad 23 Juli 2023 dalam rubrik “Selingan” yang menampilkan wawancara langsung Direktur Umum Museum Volkenkunde di Leiden, Marieke van Bommel, tersebut lah bahwa Belanda gila jika tidak mengembalikan benda purbakala itu.

Kalimat itu muncul saat Marieke menjawab pertanyaan perihal keraguan orang Indonesia mampu merawat arca-arca Singasari itu dengan baik.

Barang Jarahan

Marieke menjawab, “Pers Belanda juga mempertanyakan hal ini. Menurut saya, itu bukan wewenang kami.

Koleksi ini sampai di sini karena pelanggaran hukum dan harus dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu Indonesia.

Jadi tidak seharusnya kami kemudian berkata bahwa Anda masih belum mampu merawatnya.

Lebih dari itu, kami sudah lama bekerja sama dengan Indonesia.

Jadi kami tahu bahwa Indonesia mampu mengurusnya. Tapi itu bukan wewenang kami.

Kami berada di pihak yang menjarah koleksi ini. Jadi kami tidak bisa berkata kepada pemilik bahwa kalian harus merawatnya baik-baik. Itu gila namanya.”

Marieke masih melanjutkan argumentasinya.

“Gampangnya, saya mencuri sepedamu, lalu kamu memintanya kembali. Kemudian saya berkata, kamu akan menerimanya sesudah membangun tempat penyimpanan yang baik.

Pasti kamu akan menjawab, ‘Itu bukan Urusanmu.’

Jadi, ya begitulah, itu bukan urusan kami. Saya juga tahu Indonesia akan berpendapat seperti itu.”

Belanda tidak mengaku rugi dengan pengembalian benda purbakala milik Indonesia itu. Karena Belanda memiliki 450 ribu ojyek yang tersebar di empat museum.

Dan, masih ada koleksi Indonesia cukup besar yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Intinya, kata Marieke, “Sejauh tidak ada tuntutan pengembalian, tetap bisa dipamerkan.”

Penjajahan

Belanda tampaknya mulai menyadari bahwa perilakunya menjajah dahulu adalah keliru. Sepertinya mereka merasakan beban moral.

Baca Lagi: Jadilah Top Skor Kebaikan

Belakangan Belanda “mengakui sepenuhnya” kemerdekaan Indonesia 1945, setelah dulu menolak dan karena itu Belanda melakukan agresi militer I dan II. Namun baru mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949.

Namun, Belanda masih setengah hati, kata sejarawan UGM, Sri Margana.

Setengah hati karena hanya sebatas pengakuan moral dan politik, tanpa ada konsekuensi hukum.

Logikanya, kalau mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, berarti secara otomatis agresi militer Belanda setelah itu adalah penyerangan kedaulatan sebuah negara yang telah merdeka.

Konsekuensi dari serangan itu dituntut, minta ganti rugi atas semuanya. Seperti ulas Sri kepada BBC (15/6/23).

Nah sedikit pertanyaan untuk renungan, apakah Anda yang membaca artikel ini merasa perlu melihat arca-arca Singasari itu, lebih jauh juga sejarah bangsa Indonesia dengan Belanda?*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

1 comment

Satria Juli 25, 2023 - 15:30

sudah seharusnya belanda mengembalikan, di minta ataupun engga, karena itu milik Indonesia..!

Reply

Leave a Comment