Ketika tugas usai kulakukan semua, waktu masih tersedia dan tidak mengantuk, saya membaca melalui film. Apakah kita bisa belajar dari film?
Film sebenarnya sama dengan kisah. Kita setidaknya menemukan tiga elemen penting dalam film itu. Pertama, sosok dengan karakternya. Kedua, dialog-dialog yang tersaji. Ketiga, alur cerita yang tersedia.
Melalui setidaknya tiga elemen itu, setiap orang yang menonton film harus mampu mengelola informasi, menarik kesimpulan dan menjadikan perilaku hidupnya menjadi lebih baik lagi.
Sayangnya, tak semua orang menonton film dengan kesadaran itu. Sebagian besar justru terfokus pada hal yang tidak menajamkan pikiran, mengasah kepekaan dan membangun kesadaran menjadi lebih baik.
Lusiana Surya Widiani dkk, dalam artikel bertema penerapan film sebagai sumber belajar untuk meningkatkan kemampuan mengolah informasi siswa, menyajikan fakta itu (lihat Factum: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah). Temuan ini menegaskan bahwa film bukan sekadar tontonan, melainkan media belajar yang memerlukan kesadaran aktif.
Padahal sekarang kita memasuki era AI, yang mana orang tidak cukup hanya senang dan banyak belajar. Tetapi juga harus memahami satu konsep penting: belajar bagaimana belajar (learning how to learn).
Film yang Baik Membuka Ruang Baca yang Lebih Luas
Namun dalam memilih film, kita mesti selektif. Tak perlu kita membuang waktu untuk film yang miskin nilai, nir pesan kebaikan dan merusak otak.
Film pada dasarnya hanyalah pintu. Ia memberi kita gambaran awal, tetapi untuk memahaminya dengan lebih utuh, seseorang harus mau masuk dan mencari tahu lebih jauh.
Banyak film yang justru mendorong penontonnya membaca—baik buku, artikel, maupun referensi sejarah. Film seperti Oppenheimer, misalnya, membuat jutaan orang kembali membaca tentang sejarah Manhattan Project serta kehidupan fisikawan teoretis.
Teman-teman bisa menelusuri laporan The Guardian dan TIME mengenai lonjakan penjualan buku terkait Oppenheimer setelah film rilis).
Fenomena ini selaras dengan teori Narrative Transportation dari Melanie Green dan Timothy Brock (2000). Teorinya menjelaskan bahwa cerita yang kuat mampu “mengangkut” seseorang ke dalam dunia narasi, sehingga membuatnya terdorong mencari pengetahuan tambahan di luar cerita itu sendiri. Teori ini sangat banyak dikutip dan mudah untuk kita temukan di Google Scholar.
Dalam konteks pendidikan modern, khususnya era AI, dorongan untuk membaca setelah menonton film sangat penting. AI mempermudah akses informasi, tetapi hanya mereka yang mau “menggali lebih dalam” yang mendapat manfaat terbesar. Menonton film, lalu membaca, menjadi pola belajar yang tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat kemampuan analisis.
Karena itu, menonton film seharusnya tidak berhenti sebagai hiburan. Ia harus menjadi pembuka rasa ingin tahu. Ia harus mendorong kita mencari, membandingkan, dan membaca lebih banyak. Apalagi untuk sebuah film di bioskop kita harus mengeluarkan waktu, energi dan tentu saja biaya. Dengan begitu, film menjadi penyala api belajar, bukan sekadar pemenuhan waktu luang.
Film Mengasah Kapasitas Diri Jika Ditonton dengan Kesadaran
Albert Bandura, melalui teori “Social Learning”, menegaskan bahwa manusia belajar melalui observasi perilaku, konsekuensi, dan nilai-nilai yang ditampilkan dalam sebuah tindakan.
Film, dengan kekayaan karakter dan konflik, menjadi ruang belajar yang sangat efektif jika ditonton dengan kesadaran. Kita bisa menemukan teori ini dengan mudah karena menjadi dasar di banyak program pendidikan dan psikologi.
Banyak penelitian juga menunjukkan bahwa film dapat meningkatkan empati dan kepekaan sosial. Penelitian di Psychology of Aesthetics, Creativity, and the Arts menjelaskan bagaimana menonton film yang sarat nilai kemanusiaan dapat memperkuat kemampuan memahami perspektif orang lain. Ini membuktikan bahwa film bukan hanya visual; ia merangsang bagian otak yang berhubungan dengan empati dan pemaknaan moral.
Menumbuhkan Kapasitas Diri
Ketika seseorang menonton film dengan cara seperti itu—mengamati karakter, memahami dialog, dan menelaah konflik—kapasitas dirinya perlahan tumbuh. Ia belajar berpikir lebih jernih, mengambil jarak sebelum bereaksi, dan mampu memahami situasi secara lebih menyeluruh. Ini keterampilan yang sangat diperlukan di tengah dunia yang penuh informasi berceceran.
Pada akhirnya, film dapat menjadi alat pengembangan diri jika kita menontonnya dengan kesadaran penuh. Kesadaran untuk belajar, memahami, dan memperbaiki diri. Kesadaran inilah yang membedakan antara sekadar menonton dan benar-benar menjadikan film sebagai ruang bertumbuh.
Langkah paling penting adalah elaborasi. Kita mesti bisa melakukan elaborasi, dalam arti mampu berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut. Film bisa membantu kita untuk itu, sejauh kita memang menontonnya dengan kesadaran, bukan ingin hanyut dalam hiburan.
Jadi, sangat bisa bukan, kita belajar atau membaca melalui film?*


