Soekarno memang sosok yang punya dua sisi, banyak yang pro, tak sedikit yang kontra. Tapi begitulah manusia biasa. Namun bagaimanapun ia punya peran penting dalam kemerdekaan Indonesia. Oleh karena itu hal yang lumrah jika kita coba menggali sisi kepahlawanan dari Bung Karno.
Namun tetap dengan catatan, bahwa seorang pahlawan tetaplah manusia biasa. Kita tak perlu mendudukkan pahlawan sebagai manusia setengah dewa. Pahlawan tetap seperti manusia pada umumnya, ada salahnya, bisa kita kritik dan tak butuh untuk kita sucikan. Begitu Qaris Tajudin (wartawan Tempo) menulis artikel berjudul “Kita Tak Butuh Pahlawan”.
Tetapi kita tetap harus membuka mata hati, bahwa dari 1000 orang akan selalu ada satu sosok yang sekualitas dengan 1000 orang itu. Buya Hamka sendiri mengakui hal itu, bahwa nama-nama tokoh, termasuk Soekarno, kita sebut-sebut, kita kenang dan kita gali sejarahnya, karena kualitas pribadinya yang tidak biasa.
Sisi Hebat Soekarno
Mengapa orang kita akui sebagai pahlawan? Ia tidak saja hebat tapi kontributif bagi kehidupan bangsa dan rakyat Indonesia. Sosok yang pemikiran, kiprah dan perjuangannya menjadikan bangsa ini eksis memang pantas kita terima sebagai pahlawan. Rasanya pada cara memandang seperti ini, kita sepakat Bung Karno adalah sosok besar.
Tjipta Lesmana dalam “Dari Soekarno Sampai SBY” menerangkan bahwa Bung Karno adalah sosok pemimpin besar. Ciri-cirinya jelas: tegas, berani, perseverance (terus berusaha dengan sabar dan pantang menyerah), teguh pada prinsip, bertanggung jawab, empati pada rakyat jelata dan konsisten (dalam arti, tidak plin-plan).
Masih dalam buku itu, Soekarno juga sosok yang briliant. Mengapa sampai begitu cerdas?
Bung Karno sangat senang membaca buku. “Ia haus akan ilmu,” tulis Lesmana. Kegemaran membaca Soekarno itu akhirnya membentuk mindset dalam dirinya, termasuk dalam upaya-upaya memerdekakan dan membangun bangsa Indonesia.
Soekarno sebagai aktivis dan pemimpin menyukai bacaan politik, sejarah, agama, dan seni. Ia juga pandai menganalisis peristiwa-peristiwa sejarah yang besar. Ia belajar bagaimana revolusi besar berlangsung: Revolusi Prancis, revolusi Mao Je-dong, Revolusi Oktober di Rusia, revolusi Turki, Mesir, Aljazair, India.
Ambil yang Baik
Tentu ada sisi kontra dari berbagai pihak terhadap Soekarno. Dan, itu wajar, Soekarno manusia juga. Tapi kita sebagai anak bangsa butuh untuk mengambil sisi yang baik.
Ungkapan Bung Karno yang terekam sejarah salah satunya: “Kita tidak akan menjadi negara untuk satu golongan. Tetapi semua buat semua, satu buat semua, semua untuk satu”.
Saya kira, menghormati pahlawan itu bukan dengan memuja-mujanya. Tapi dengan memahami pesan-pesan penting dari pikiran dan ungkapan-ungkapannya yang penting bagi kelangsungan Indonesia kini dan ke depan.
Sekarang mari cek, apakah Indonesia telah menjadi negara untuk semua. Kalau jawabannya ia, mengapa ekonomi hanya berputar pada kalangan elit. Siapa elit itu, kok merasa paling berhak atas kesejahteraan segala sumber daya yang ada di Indonesia?
Kalau cara kita memperingati Hari Pahlawan seperti ini, bukan sebatas sibuk banyak menggelar seremoni, tidak akan ada tulisan bahwa kami tidak butuh pahlawan.
Sebab kepahlawanan yang hanya dikagumi tapi tidak kita bumikan, sama dengan tidak mengubah apa-apa, termasuk peta pembangunan rakyat lebih baik di masa depan. Apalagi kalau kemudian kita sandingkan dengan data rakyat yang sulit bekerja, kemiskinan tak teratasi dan lain sebagainya. Memuji pahlawan tak mengundang kesejahteraan dan ketentraman.*


