Mas Imam Nawawi

- Kisah

Belajar Independen Berpikir, Sudah Tahu Caranya?

Dalam momen makan siang bersama (18/11/25) di Jakarta, saya duduk bersama senior yang jebolan doktor dari Malaysia. Kami cukup hangat berdiskusi tentang bacaan, tulisan dan berpikir. Meski keadaan saat itu sedang hujan deras dan cuaca dingin. Kami tidak terpengaruh dengan kondisi itu. Dari pertemuan itu saya merangkai satu tema penting, urgensinya kita belajar independen dalam […]

Belajar Independen Berpikir, Sudah Tahu Caranya?

Dalam momen makan siang bersama (18/11/25) di Jakarta, saya duduk bersama senior yang jebolan doktor dari Malaysia. Kami cukup hangat berdiskusi tentang bacaan, tulisan dan berpikir. Meski keadaan saat itu sedang hujan deras dan cuaca dingin. Kami tidak terpengaruh dengan kondisi itu. Dari pertemuan itu saya merangkai satu tema penting, urgensinya kita belajar independen dalam berpikir.

Secara singkat, berpikir independen adalah orang yang memiliki sikap mental mampu menganalisis situasi. Kemudian juga bisa membentuk formula penilaian sendiri tanpa pengaruh atau tekanan dan arus opini publik secara umum ataupun pakar secara khusus. Ia benar-benar berpikir atas kemampuannya membaca semua hal.

Penting untuk kita catata, langkah ini perlu sejauh basis dan tujuannya memang untuk menegakkan kebaikan, kebenaran dan kemaslahatan.

Lebih dalam hal itu menjadi kebutuhan kita karena ada argumen menarik untuk kita perhatikan. Sebab “khusus” Indonesia kita berhadapan dengan tantangan yang tidak ringan dalam hal berpikir independen ini.

“McKiernon mencatat bahwa keberhasilan lebih sering ditentukan oleh kekayaan dan koneksi sosial daripada kualitas pendidikan. Ini menciptakan ekosistem di mana individu berbakat dan cerdas sering kali kalah bersaing dengan mereka yang memiliki jalur langsung ke posisi strategis berkat hubungan keluarga atau jaringan bisnis” (Lihat tulisan Agung MSG dengan judul: “Leigh McKiernon dan Kenyataan Pahit Tentang Sistem yang Mempertahankan Status Quo”).

Pandai Melawan Arus

Awal dari tulisan Agung MSG itu menarik soal ini. “Kesuksesan sejati lahir dari keberanian melawan arus. Mereka yang berani melampaui sitem yang stagnan akan menciptakan perubahan nyata.”

Jadi, soal independen dalam berpikir ini bukan semata bagaimana teori dan penerapannya secara teknis bisa kita lakukan. Lebih jauh adalah tentang untuk apa kita harus independen dalam berpikir.

Ustadz Abdurrahman Muhammad (Rais Am Hidayatullah) menegaskan bahwa: “Luar biasa perjalanan kekayaan Hidayatullah. Kalau materi itu tidak usah “rekeng” itu materi. Tapi kekayaan rohani ini, bahwa hadirnya Hidayatullah ini, sebagai penggagas peradaban. Karena peradaban yang digagas Hidayatullah bukan bersifat reaksional.”

Sebagaimana saya dengar dalam paparannya kala mengisi kegiatan Pekan Orientasi Mujahid Peradaban Pengurus Tingkat Pusat Hidayatullah di Bogor (Senin, 17/11/2025).

Kalau kita renungkan sejenak, dalam arus materialisme yang kuat, yang sekarang banyak konten digital mengajak menjadi kaya dengan berbagai langkah-langkah kekinian, masih ada sebagian dari bangsa ini yang memandang spiritualitas sebagai asas dalam membangun bangsa dan negara. Jelas, ini adalah satu kepandaian dalam melawan arus.

Saya sebut pandai, karena mereka mau untuk tidak hanyut. Mereka masih yakin dan optimis cara ini urgen sekaligus efektif dalam memberi warna positif bagi kemajuan bangsa. Dan, seperti Hidayatullah, demikian pula dengan gerakan keumatan lainnya.

Indikasi Langsung

Akan tetapi, itu kan tataran konsep, wacana atau paradigma. Lalu bagaimana praktik langsungnya?

Senior itu tidak saja memberikan wacana itu. Ia juga memberikan contoh praktik dalam kehidupan sehari-hari.

Ia, setiap melihat konten di internet, media sosial atau pun artikel, begitu tuntas mengamati, kemudian ada kecocokan. Ia merenung sejenak. Dan, menariknya, setiap ia merasa senang dan cocok, ia tergoda untuk membagikan ke orang lain.

Tapi ia berhenti bahkan mengurungkan niat itu. Sebab ia selalu bertanya dalam jiwanya: “Ini kan cara dia berpikir. Lalu apa respon saya. Dan, apakah saya tidak punya pikiran sendiri.” Hal itu membuat dia selektif membagikan hal-hal yang ia anggap menarik. Khawatir orang hanyut dengan konten itu dan lupa bahwa dirinya juga bisa menghadirkan pemikiran juga.

Dalam kata yang lain, berpikir independen adalah berpikir yang berbasis pada praktik Iqra’ Bismirabbik. Ia membaca tapi dalam rangka memiliki sudut pandang berpikir insan ulul albab. Bukan asal senang, merasa cocok, lalu main share. Apalagi kalau itu jadi kebiasaan dan kita sendiri merupakan aktivitas penting itu sendiri. Yaitu berpikir secara independen.*

Mas Imam Nawawi