Masalah brain rot banyak orang khawatirkan. Orang yang senang bermedia sosial jadi ketakutan. Meski tetap sulit menghentikan kesukaan itu. Ya, media sosial memang dituding sebagai dedengkot orang mudah kehilangan fokus dan sulit berpikir mendalam. Tetapi apakah benar begitu? Apakah kita bisa bebas dari brain rot meski main media sosial?
Belum ada riset ilmiah yang memastikan bahwa ada cara untuk bebas dari brain rot ketika main media sosial. Tapi saya punya pengalaman pribadi.
Tentukan Tujuan Bermedia Sosial
Bermedia sosial akan menguras waktu bahkan energi jika kita masuk ke dalamnya tanpa tujuan.
Persis orang yang masuk mall dan tidak ada tujuan pasti. Maka ia akan menggunakan seluruh waktunya untuk melihat ini dan itu. Bisa jadi dia membeli barang tak perlu. Boleh jadi ia tak membeli apapun.
Minimal, niatkan ke mall untuk jalan 6000 langkah. Itu sehat dan membawa dampak kebahagiaan.
Demikian pula halnya dengan bermedia sosial.
Bedah Lebih Dalam
Mengapa media sosial jadi sarang brain rot? Karena sebagian orang memasang konten untuk memburu like, komen dan share, plus viewer. Orang pun mengakui suatu konten bagus kalau viral.
Kondisi itu menjadikan banyak orang terobsesi mendapatkan “pengakuan” maya itu. Namun, alih-alih berpikir keras, mereka justru menarik perhatian dengan konten yang tak bergizi.
Dan, karena sebagian orang tak punya tujuan, akhirnya mereka ikut saja arus yang tidak jelas. Akibatnya suka scroll. Nah, ternyata kebiasaan scroll itulah yang membuat orang kehilangan ketajaman berpikir.
Padahal, kalau kita mau like, komen, share, konten yang bergizi, maka viralitas media sosial juga akan mengarah pada yang baik. Dalam kata yang lain, sehat tidaknya media sosial, sedikit banyak ada kontribusi dari setiap user.
Padahal untuk mendapatkan ilmu, kita mesti memberi perhatian penuh. Richard Feynman berkata, “Knowledge isn’t free. You have to pay attention.”
Alihkan Perhatian
Kalau mau bebas dari brain rot dan tetap ingin bermedia sosial, langkah praktisnya ada.
Pertama, atur waktu screen time. Jangan setiap ada waktu luang, scrolling.
Kedua, unfollow akun yang tak mendidik. Ganti perhatian kita, dari konten receh ke konten bergizi.
Ketiga, tetap harus ada waktu membaca buku, minimal baca artikel. Saya kerap membagikan tulisan-tulisan saya ke Facebook.
Keempat, batasi waktu bermedia sosial. Bisa dengan cara mematikan HP atau menghentikan arus internet dengan meng-off-kan wifi.
Full Energi Berpikir
Kalau mau energi kuat dalam hal perhatian, renungkanlah perintah Allah. Afala tatafakkarun, tidakkah kamu berpikir. Kemudian Afala ta’qilun, tidakkah kamu menggunakan akal. Dan, afala yandzurun, tidakkah mereka memperhatikan.
Jangan sampai kita hidup hanya karena masih bernapas belaka.
“Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami…” (QS. Al-A’raf: 179).*
