Bencana bukan sekadar luka. Ia datang sebagai bahan kita membaca. Membaca jiwa dan membaca alam. Jadi, tidak berlebihan kalau kita mengambil kesimpulan bahwa bencana sejatinya adalah “kitab” terbuka.
Kita mesti membacanya dengan hati yang bening, bukan sekadar melihat dengan mata telanjang. Banjir yang menerjang Sumatera baru-baru ini menyentak kesadaran kolektif kita. Saat air bah merendam rumah dan harapan saudara-saudara kita, sesungguhnya alam sedang mengirimkan pesan keras kepada nurani kita semua.
Lebih dalam ini adalah “peringatan” penting bahwa jauhi sikap serakah, hindari orientasi hidup mementingkan diri sendiri. Entah itu atas nama bisnis atau pun demi pembangunan.
Bahkan lebih dalam lagi, berhenti untuk tidak peduli, terutama kepada alam yang menjadi tempat tinggal manusia. Dan, kita bisa menyaksikan sendiri, bagaimana alam “membalas” kecuekan manusia. Sakit sekali!
Satu Tubuh, Satu Rasa
Rasulullah SAW mengingatkan kita lewat metafora yang menggetarkan: orang mukmin itu layaknya satu tubuh. Jika satu organ merintih sakit, seluruh tubuh ikut demam dan tak bisa tidur (HR Muslim). Inilah ujian ukhuwah yang sesungguhnya. Kita harus menggeser pola pikir dari “urusan mereka” menjadi “urusan kita”.
Syaikh Ismail Hakki dalam Tafsir Ruhul Bayan menegaskan sebuah prinsip agung: cinta sejati mewajibkan kita menginginkan kebaikan bagi orang lain, sama seperti kita menginginkannya untuk diri sendiri.
Oleh karena itu, kita tak bisa hanya prihatin dan berduka. Kita mesti melangkah. Melalui doa, donasi, dan aksi nyata bukanlah sekadar bantuan sosial, melainkan bukti otentik keimanan kita.
Menuding Diri, Bukan Sekadar Menyalahkan Hujan
Namun, empati saja tidak cukup tanpa muhasabah (introspeksi). Banjir ini jarang murni peristiwa “alami”. Ia lahir dari interaksi kompleks antara iklim dan tangan jahil manusia. Keserakahan kita telah merusak keseimbangan semesta.
Dr. Ir. Hatma Suryatmojo dari UGM menyoroti fakta pahit ini. Banjir bandang akhir November 2025 bukanlah kejadian yang berdiri sendiri.
Memang, curah hujan ekstrem mencapai 300 mm per hari akibat Siklon Tropis Senyar memicu debit air melimpah. Namun, air berubah menjadi monster perusak karena “benteng alam” di hulu telah runtuh.
Deforestasi ilegal, alih fungsi lahan yang brutal, dan degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS) membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air.
Tanah yang gundul tak lagi mampu memeluk hujan, lalu memuntahkannya sebagai petaka ke pemukiman warga. Ini adalah buah dari tangan manusia yang gagal memuliakan alam.
Momentum Perbaikan Total
Pada sisi yang lain, kita bisa melihat bahwa musibah ini juga menjadi ujian integritas bagi para pemimpin.
Publik membutuhkan sosok yang cepat tanggap, jujur, dan amanah, bukan yang sekadar pandai bersolek citra di tengah duka. Bersegeralah untuk membantu mereka untuk pulih, bangkit dan hidup seperti sedia kala.
Dengan demikian, sudah saatnya kita berhenti sekadar berduka. Kita wajib memperbaiki tata ruang, memulihkan lingkungan, dan membangun edukasi kebencanaan yang serius.
Mari jadikan banjir Sumatera ini titik balik untuk bertobat dari “dosa ekologis” dan keserakahan yang membinasakan semua. Kita jaga alam, niscaya alam akan menjaga kita dengan izin Allah SWT.*


