Mas Imam Nawawi

- Opini

Banjir, Longsor, dan Pengalaman Tom Lembong Tentang Karut-Marut Aparat

Banjir di Jakarta, Tangsel, Mataram, NTB. Kemudian longsor di Bogor mungkin kita anggap biasa. Karena ini “musim” hujan. Tetapi kalau setiap tiba musim hujan, bencana itu tiba, apakah benar itu salah hujan? Selanjutnya, kalau kita baca ungkapan Tom Lembong yang mengaku mengalami langsung karut-marut aparat. Apakah kekacauan penataan lingkungan juga berkorelasi dengan berkarunya pikiran aparat? […]

Banjir, tanah longsor dan Tom Lembong

Banjir di Jakarta, Tangsel, Mataram, NTB. Kemudian longsor di Bogor mungkin kita anggap biasa. Karena ini “musim” hujan. Tetapi kalau setiap tiba musim hujan, bencana itu tiba, apakah benar itu salah hujan? Selanjutnya, kalau kita baca ungkapan Tom Lembong yang mengaku mengalami langsung karut-marut aparat. Apakah kekacauan penataan lingkungan juga berkorelasi dengan berkarunya pikiran aparat?

Pepatah dahulu mengatakan, seekor keledai tidak akan jatuh kedua kalinya pada lubang yang sama. Bahasa Rhoma Irama dalam sebuah lagu, “Cukup satu kali, kehilangan tongkat. Cukup satu kali”.

Dalam kata yang lain, bangsa ini harusnya belajar. Bagaimana penataan lingkungan mesti jadi prioritas agar tak setiap musim hujan, banjir terus menyiksa warga. Tapi begitulah faktanya. Banjir terus menjadi “langganan.”

Solusi Banjir

Mendatangkan konsep yang bisa jadi solusi atasi banjir “langganan” bukan perkara mudah. Khusus Jakarta, berganti gubernur ke gubernur, faktanya tak berubah. Banjir tetap datang. Media “ramai” memberitakan itu.

Namun jika melihat kompleksnya banjir “langganan” itu, solusi paling awal adalah menata cara berpikir para pejabat dan sekaligus rakyat.

Pejabat mesti berpikir bagaimana resapan air hujan bisa diciptakan. Rakyat pun berupaya menahan diri dari perilaku negatif. Seperti membuang sampah. Jangan sembarangan.

Tidak kalah baik adalah menggalakkan program kerja bakti. Utamanya membersihkan saluran air, selokan dan lingkungan sekitar dari sampah dan sedimen.

Tak ada yang salah dalam konteks ini. Yang harus kita temukan jalan keluarnya adalah apakah kita mau bersama-sama mengatasinya dengan baik. Kita hadirkan solusi, bukan keluhan, perdebatan, apalagi saling tuding, mencari kambing hitam.

Pahitnya Pengalaman Tom Lembong

Lalu apa hubungannya banjir, longsor dengan Tom Lembong?

Tom, sapaan mantan Menteri Perdagangan 2015-2016 mengatakan bahwa kondisi aparat negeri ini karut-marut.

“Dengan pengalaman ini, saya juga bisa mengalami langsung, betapa karut-marutnya aparat kita,” kata Tom, saat membaca pleidoinya di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat (9/7/25).

Karut-marut yang ia maksud adalah adanya ketidakadilan alias kesewenang-wenangan aparat pada masyarakat.

“Keperihatinan pada kalangan dan lapisan masyarakat kita, yang terus diperlakukan secara tidak adil oleh aparat,” kata Tom yang merasakan esensi hal itu, meski hanya permukaan.

Jika kita “padukan” apa yang jadi pengalaman Tom dan banjir, serta tanah longsor yang terjadi, boleh jadi kita sudah tidak adil terhadap lingkungan. Kita tetap angkuh, merasa benar. Padahal, sikap arogan itu tengah mengikis stabilitas alam dan cara hidup kita sendiri.

Jika kenyataan seperti itu tak mampu membuat kita bernalar dengan baik dan sadar sepenuh jiwa untuk perbaikan ke depan. Apakah kita benar-benar menanti bencana lebih besar?*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *