Mas Imam Nawawi

- Kajian Utama

Bahagia Itu Saat Kita Mau Berqurban

Kenapa berqurban bisa membuat kita bahagia? Karena qurban bukan cuma tentang menyembelih hewan, tapi soal kesadaran. Kesadaran itu bangunan diri paling penting untuk benar-benar bisa hidup bahagia. Sebagai manusia kadang kita lupa kalau ada sifat negatif dalam diri, yang bisa diasosiasikan ke perilaku hewan. Seperti beringas, egois, dan tak kenal aturan. Jadi, qurban mengajak hati […]

Berqurban

Kenapa berqurban bisa membuat kita bahagia? Karena qurban bukan cuma tentang menyembelih hewan, tapi soal kesadaran. Kesadaran itu bangunan diri paling penting untuk benar-benar bisa hidup bahagia.

Sebagai manusia kadang kita lupa kalau ada sifat negatif dalam diri, yang bisa diasosiasikan ke perilaku hewan. Seperti beringas, egois, dan tak kenal aturan.

Jadi, qurban mengajak hati kita sadar tentang pentingnya mendekatkan diri ke Allah.

Saat itu hadir dalam jiwa, maka mudah kita menjaga hati tetap lembut, penuh iman, dan hidup dalam naungan takwa.

Konkretnya seperti Nabi Ismail. Masih belia tapi sudah tahu apa itu sabar dan ingin Allah catat sebagai orang yang sabar.

Sekarang, sebagian kita malah memandang sikap sabar sebagai kerugian. Inilah awal dari hidup yang sulit bertemu kebahagiaan.

Hati yang Sadar

Esensi qurban itu kesadaran yang membuahkan iman dan perbuatan yang Allah kehendaki.

Qurban bukan semata soal ukuran hewan. Meskipun itu sangat baik kita lakukan. Berqurban dengan hewan terbaik.

Walakin lebih jauh, karena kita bicara kesadaran, Allah ingin melihat seberapa dalam keikhlasan dan ketakwaan kita saat berqurban.

Ingat ayat-Nya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).

Dalam kata yang lain, siapa mau berqurban ia tidak saja akan bahagia. Lebih dari sekadar itu, hatinya akan semakin terkondisi untuk bertakwa.

Qurban Semacam Cermin

Qurban itu semacam cermin. Saat melakukannya, kita ditantang untuk jujur: Tulus enggak? Masih punya semangat buat berubah jadi lebih baik atau gimana?

Dalam Konferensi Pers Qurban BMH di Bangi Kopi (22/5/25), Ust. Erick Yusuf mengatakan bahwa berqurban sama dengan menyembelih sifat buruk.

Jadi penyembelihan hewan itu sejatinya simbol. Hakikatnya kita sedang berusaha memotong ego, rasa kikir, iri, merasa paling benar, atau mudah menyalahkan. Itu semua harus disingkirkan.

Qurban ngajarin kita untuk jadi manusia yang tenang, ikhlas, dan nggak dikendalikan hawa nafsu.

Dengan demikian qurban bukan soal bisa atau enggak. Tapi soal mau atau nggak.

Karena kalau mau, itu tanda kita masih ingin dekat dengan Allah. Masih ingin memperbaiki diri. Masih ingin jadi manusia yang lebih bermanfaat, bahagia dan membahagiakan.*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *