Home Artikel Bahagia dengan Memberi, Memberi dan Memberi
Bahagia dengan memberi, memberi dan memberi

Bahagia dengan Memberi, Memberi dan Memberi

by Imam Nawawi

Banyak orang sepakat, bahagia itu kalau menerima. Apalagi kalau menerima THR (Tunjangan Hari Raya). Namun secara mendalam, orang sangat mungkin cepat bahagia kalau dia mau memberi, memberi dan memberi.

Logikanya sederhana, memberi adalah sifat alamiah. Dan, kalau kita perhatikan semua makhluk di alam ini, masing-masing punya kontribusi, artinya ada yang mereka berikan bagi kehidupan.

Matahari, selalu memberikan dunia sinar terangnya. Sinar itu menjadikan tumbuhan menjalankan proses tumbuh dan berkembang. Manusia juga bergerak dari diam karena istirahat kala malam.

Begitu pun air, ia memberikan energinya bagi semua makhluk hidup, sehingga pergerakan kehidupan berjalan dengan baik. Akar tumbuhan dapat mengambil nutrisi dari dalam tanah. Manusia selamat dari dehidrasi, sehingga sehat dan bugar dan seterusnya.

Baca Juga: Jangan Lelah Berinfak

Dan, dalam konteks sejarah, mereka yang memberikan pengorbanan besar untuk Indonesia merdeka, selalu hidup dalam batin yang bahagia. Mungkin mereka tidak punya gaji dan fasilitas rumah, mobil serta anggaran yang besar layaknya presiden dan pejabat sekarang. Namun, apakah Anda yakin, para pejuang tidak lebih bahagia daripada presiden dan pejabat saat ini?

Bahagianya Orang Tua

Siapa yang paling bahagia kala kita sebagai anak meraih prestasi yang baik dalam kehidupan? Pasti orang tua kita. Mengapa mereka yang paling bahagia? Karena mereka yang telah memberikan jiwa raganya untuk tumbuh kembang kehidupan kita sebagai anak, hingga menjadi dewasa.

Oleh karena itu bahagia bukan soal menerima semata, lebih dalam adalah tentang memberi. Memberi bukan soal materi semata, memberi bisa dengan beragam kebaikan yang mungkin kita lakukan.

Seperti orang tua kita, mereka memberikan kasih sayang, perawatan, perhatian, dan juga kebutuhan pangan bahkan pendidikan. Mereka memang bersusah payah untuk melakukan itu semua, tapi mereka sangat bahagia dalam melakukannya.

Pernah melihat bagaimana orang tua tak peduli panas dan hujan mencari nafkah demi kehidupan anak-anaknya?

Semua itu bisa mereka lakukan karena mereka ingin kita bahagia. Dan, kebahagiaan kita adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup orang tua masing-masing kita.

Mentalitas

Meski begitu, memberi tidak mudah orang melakukannya. Karena memberi sepintas memang seperti mengurangi yang kita miliki. Namun, kalau kita mau berpikir secara utuh, memberi sebenarnya juga menyedot kuat ke dalam diri.

Saat seseorang berinfak, maka infak itu akan membuat dirinya menerima tiga manfaat minimal. Pertama, ia menerima berkah dari Allah karena taat. Kedua, ia ikut melakukan perawatan kemajuan umat. Ketiga, ia mendapat hadiah selamat hatinya dari sifat kikir.

Baca Lagi: Inilah Jalan Hidup Sehat dan Bahagia

Jadi, kalau ada orang tidak mau berinfak, berbagi dan memberi, ia mungkin seperti beruntung. Karena hartanya tidak berkurang. Namun secara hakikat, tidak memberi tidak akan bisa menerima. Akibatnya ia menjadi orang yang was-was, memandang bahagia hanya uang dan hatinya gelisah, karena melupakan Allah.

Untuk itu, berlatihlah untuk memberi. Beri apa yang bisa kita sumbangkan kepada kehidupan. Bisa dengan memberi uang, makanan, bahkan senyuman. Kalau bisa menulis, menulislah dengan niat sedekah. Insha Allah hidup juga akan berkah.

Pernahkah kita membayangkan betapa bahagianya Imam Al-Ghazali, Imam Syafi’i dan ulama besar lainnya, ketika mereka telah tiada, karya mereka terus memberi manfaat dan maslahat bagi umat manusia?

Jadi, bahagia bukan soal menerima semata. Bahagia justru berpangkal dari memberi dan memberi akan membuat kita menerima. Menerima apa yang Allah cintai dalam kehidupan dunia yang fana ini.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment