Tema ini (apakah negara hadir untuk keselamatan jiwa warga negaranya?) mungkin agak aneh. Meskipun itu mudah kita pahami kalau merenungkan bait lagu Indonesia Raya: bangunlah jiwanya. Jiwa itu tidak lain nyawa manusia, nafas setiap warga negara Indonesia yang menjadi bagian dari segenap tumpah darah Indonesia.
Berita yang begitu memilukan datang dari Jayapura, tepatnya ketika ibu bernama Irene Sokoy yang hamil dan akhirnya meninggal dunia usai dikabarkan empat rumah sakit menolaknya sebelum meninggal. Kabarnya RS ke-4 bisa merawat dengan catatan ada uang Rp 4 juta. Karena menurut pihak RS ruangan untuk pasien BPJS sudah penuh.
Keselamatan Jiwa
UUD 1945 menyatakan dengan gamblang bahwa salah satu tujuan negara Indonesia adalah “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.” Tentu saja ini bukan semata soal fisik, tetapi juga kesejahteraan mental bahkan jiwa atau nyawa warga negara Indonesia.
Indonesia boleh memiliki infrastruktur yang canggih dan maju, tapi jangan abaikan jiwa warga negaranya. Selain itu sifat pelayanan tidak cukup dengan hanya pada level kebijakan, penting melakukan monitoring pada level pelaksanaan. Karena pada akhirnya, fakta-fakta seperti ini dapat menghentikan laju kepercayaan masyarakat pada sistem layanan pemerintah terhadap warga negara.
Kita juga patut bertanya, apa arti gedung tinggi, ekonomi naik, pada saat yang sama hati nurani kian langka, bahkan mungkin nyaris tiada. Bayangkan rumah sakit yang harusnya menjadi gerbang fasilitas kesehatan justru menjadi palnag pintu kematian yang dingin.
Idealnya kita seperti semangat Indonesia Raya: bangunlah jiwanya bangunlah badannya. Dalam kata yang lain, tak boleh ada ke depan rumah sakit yang kesulitan menolong orang yang butuh penyelamatan jiwa dan raganya hanya karena alasan birokrasi, biaya, dan lain sebagainya.
Semoga melalui peristiwa ini gelombang kesadaran untuk benar-benar menjaga jiwa anak bangsa kembali kokoh hadir, sehingga apa yang Irene Sokoy alami tak lagi terjadi pada masa-masa mendatang.
Inspirasi Umar bin Khattab ra
Dahulu, 14 abad silam, Umar bin Khattab ra tak pernah tidur cepat pada malam hari. Bukan ia tidak tahu tidur cukup itu penting. Tapi karena ia sadar tanggung jawab jangan ada warganya yang tak bisa tidur karena kelaparan.
Keresahan Umar itu terbukti. Ada seorang ibu yang “pura-pura” masak agar anaknya bisa tidur. Pura-pura masak karena memang yang ia rebus hanyalah batu. Bukan gandum, beras atau sejenisnya.
Menyaksikan itu Umar bergegas ke gudang negara (sekarang mungkin sejenis bulog). Ia mengambil sekarung gandum dan memanggulnya sendiri. Umar yang mulia itu tak merasa risih melakukan itu. Tak sebatas mengantarkan makanan itu, Umar memasak dan mengolahnya.
Kuatkan Sistem Pro Rakyat
Sekarang, mungkin tak perlu bupati, gubernur atau bahkan presiden turun ke lapangan melakukan apa yang jadi inspirasi dari Umar bin Khattab ra. Tetapi pastikanlah sistem bekerja dengan baik, bahwa tak boleh ada rakyat kelaparan. Beruntung sekarang sudah ada program Makan Bergizi Gratis. Tetapi masalah belum berhenti, karena faktanya ada ibu meninggal dunia karena tak terlayani oleh rumah sakit.
Tentu saja, kepekaan pemimpin adalah akar. Kemudian sistem yang pro rakyat adalah saluran distribusi keadilan secara mendasar. Selanjutnya semangat persaudaraan juga mesti kita kuatkan kembali. Ekonomi maju, persatuan semakin nomor satu. Indonesia menjadi negara yang adil, maju dan makmur akan benar-benar menjadi nyata. Kita tak menuntut siapapun, tapi mari kita bangun kesadaran ke arah itu. Karena Indonesia adalah milik kita semua.*


