Mas Imam Nawawi

- Artikel

Apakah AI itu Sains?

Pertanyaan “Apakah AI itu sains?” penting untuk menjadi bahan refleksi kita bersama. Pertama, kalau kita perhatikan dengan seksama, semangat dari modernisme adalah semangat saintifik. Saintifik berkeyakinan bisa membawa umat manusia pada kemajuan. Apa kemajuan itu? Yakni mendorong manusia melepaskan kepercayaan yang sejatinya mitos menuju kepercayaan saintifik (Lihat buku “Paradigma Sains Integratif Al-Farabi, karya Khumaidi). Demikianlah […]

AI

Pertanyaan “Apakah AI itu sains?” penting untuk menjadi bahan refleksi kita bersama.

Pertama, kalau kita perhatikan dengan seksama, semangat dari modernisme adalah semangat saintifik.

Saintifik berkeyakinan bisa membawa umat manusia pada kemajuan. Apa kemajuan itu?

Yakni mendorong manusia melepaskan kepercayaan yang sejatinya mitos menuju kepercayaan saintifik (Lihat buku “Paradigma Sains Integratif Al-Farabi, karya Khumaidi).

Demikianlah halnya kalau merujuk pada kehidupan masyarakat Eropa pada abad XVI hingga abad XX. Namun, bagaimana sekarang, apakah saintifik benar-benar membawa kemajuan lahir dan batin bagi kehidupan umat manusia?

Bahaya AI

Kedua, sekarang kita berada pada masa AI. Banyak yang paham AI berguna sekali untuk membantu pekerjaan manusia. Namun, seperti biasa, yang namanya buatan manusia, satu sisi positif, sisi lain negatif. Masalahnya, bahaya dari AI itu dinilai serius.

“AI jadi berbahaya ketika ada orang pintar yang paham AI dan membuat varian baru AI yang menyalahi etika seperti penyalahan terkait dengan privasi seperti perubahan muka dan sebagainya. Itu bahaya yang paling mengerikan,” papar Guru Besar UGM, Prof. Dr. Ir. Ridi Ferdiana, S.T., M.T., IPM., saat menyampaikan paparan terkait Open AI dan Chat GPT dalam Sekolah Wartawan, Senin (26/6/23).

Lebih jauh AI juga berbahaya terhadap keamanan privasi dan data. Kemudian, ketergantungan berlebihan pada AI. Serta, penggantian tenaga kerja oleh otomatisasi AI. Termasuk penyalahgunaan AI dan tantangan etis dalam penggunaan AI yang belum muncul.

Waspada

Jika AI kita sebut sains, maka konsekuensinya cara pandang modern, yang menegasikan metafisik akan semakin kuat.

Dan, AI sebagai produk sains, jelas memiliki dampak buruk jika tak terkendali. Persis seperti otomotif yang mendorong terjadinya polusi udara.

Sebagaimana kita tahu, sains memang memberi solusi pada sebagian hal. Namun memikul masalah pada hal lain. Dalam kata yang lain, kita perlu bijak, tepatnya waspada terhadap AI.

Pada level negara, jika pemerintah memandang AI lebih murah dan produktif daripada menggunakan manusia, maka pengangguran sudah di depan mata.

Pertanyaannya apakah manusia memang tidak benar-benar berharga daripada AI? Kalau paradigma jawabannya adalah ekonomi, manusia bisa dikorbankan, sebagaimana Eropa melakukan penjajahan.

Walakin, kalau paradigma jawabannya adalah ilmu dalam Islam, maka tidak patut manusia membahayakan manusia yang lain. Lantas?*

Mas Imam Nawawi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *