Belum lama ini seorang senior memberikan buku untuk saya baca. Judulnya “Reset Indonesia”. Lalu apa yang menarik untuk jadi renungan kita bersama, mari kita mulai.
Belakangan, kita mulai akrab dengan ungkapan “Tahun 2045”. Itu seolah menjadi mantra ajaib bagi bangsa ini. Kita kerap mendengar para elit mendengungkan visi besar tentang satu abad kemerdekaan.
Negara menjanjikan sebuah masa depan gemilang di mana bangsa ini berdiri tegak, berdaulat, dan makmur.
Namun, sebuah buku berjudul “Reset Indonesia” karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono hadir mengusik kenyamanan imajinasi tersebut.
Kedua penulis itu mengajak kita berhenti sejenak dari mabuk retorika dan mulai menatap tanah tempat kita berpijak. Ya, seperti sekarang, Sumatera dan Aceh yang sedang berduka. Duka yang hingga kini belum juga berlalu.
Pesona Retorika di Atas Kertas
Pemerintah dan berbagai elemen bangsa memang telah memasang kuda-kuda. Bappenas merancang Visi Indonesia Emas 2045 dengan empat pilar utama: Berdaulat, Maju, Adil, dan Makmur.
Tidak ketinggalan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyusun panduan konkret bertajuk “Peta Jalan Indonesia Emas 2045”. Bahkan, kaum intelektual dari Alumni IPB turut menyumbang gagasan tentang “Kedaulatan Agromaritim”.
Semua narasi ini membentuk sebuah tesis yang memukau: Indonesia sedang bergerak menuju puncak peradaban.
Dokumen-dokumen itu melukiskan masa depan yang cerah. Kita seolah tinggal menunggu waktu untuk memanen kejayaan. Rencana tersusun rapi, indikator keberhasilan tertera jelas, dan optimisme membumbung tinggi ke angkasa. Secara teoritis, kita tampak sangat siap menyongsong takdir sebagai negara maju.
Tamparan Keras Realitas
Akan tetapi, Reset Indonesia menyodorkan antitesis yang menohok. Buku ini mengingatkan bahwa mimpi yang bagus harus bersandar pada realitas, bukan sekadar tinta di atas kertas. Faktanya, kita sedang menghadapi fatamorgana. Begitu keduanya memberikan kesimpulan.
Farid Gaban dan Dandhy Laksono membedah “borok” yang selama ini tertutup bedak tebal pembangunan.
Kita justru sedang terjebak dalam kerusakan alam yang masif dan ketimpangan ekonomi yang melebar. Konflik sosial merebak, utang negara terus menggunung, serta sektor vital seperti pertanian dan industri manufaktur justru mengalami kemunduran.
Lebih mengerikan lagi, kita menghadapi risiko kegagalan bonus demografi. Bagaimana mungkin kita meraih “Emas” jika generasi muda penerus bangsa justru sulit mencari kerja?
Mereka rentan sakit-sakitan, hidup dalam jerat kemiskinan, dan kurang mengenyam pendidikan berkualitas.
Jika kondisi fundamental ini tidak kita perbaiki, bonus demografi hanyalah bom waktu yang siap meledak. Kerusakan politik dan demokrasi yang terjadi hari ini semakin memperparah jurang antara harapan dan kenyataan tersebut. Apakah teman-teman juga melihat atau bahkan merasakan?
Menolak Cemas, Memulai Langkah Tuntas
Sintesis dari pertentangan antara mimpi dan realitas ini menuntut sebuah kesadaran kolektif. Bonus demografi hanya terjadi sekali dalam sejarah sebuah bangsa. Kita tidak punya kesempatan kedua. Jika kita gagal menyiapkan diri sekarang, visi Indonesia Emas niscaya berubah menjadi “Indonesia Cemas” sepanjang masa.
Oleh karena itu, kita harus segera melakukan “reset”.
Kita perlu mengubah haluan dari sekadar memuja angka pertumbuhan ekonomi makro menuju perbaikan kualitas hidup manusia secara nyata.
Tidak masalah pertumbuhan ekonomi jadi kekuatan, tapi jangan sampai rakyat tidak menikmati udara kemerdekaan yang akan menuju angka 100 tahun. Bagaimana soal makan, soal pendidikan, soal pendidikan. Bahkan sekarang, kita juga bisa menyoal, bagaimana soal alam, lingkungan dan hutan.
Pemimpin dan masyarakat harus berhenti bersembunyi di balik jargon. Kita wajib menyelesaikan masalah kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial sebagai prasyarat mutlak kemajuan.
Sekarang saatnya semua elemen, termasuk pemerintah dan masyarakat, terutama kaum muda bekerja dalam satu harmoni yang mendekatkan visi emas. Bukan terus bercerita emas tapi rakyat terus dalam keadaan cemas.
Kita harus melakukan itu. Tanpa langkah konkret yang menapak bumi, Indonesia Emas 2045 hanyalah dongeng pengantar tidur yang melenakan, sementara rumah kita perlahan roboh. Bahkan menurut berita, banjir Sumatera, juga telah melenyapkan sebuah desa, bukan lagi rumah dan ladang.*


