Manusia selalu ingin lebih baik. Kondisi itu membuat manusia terus belajar dan memperbaiki diri. Kadang kita sendiri merasakan. Bagaimana hati dan akal kadang terus menendang kesadaran. Bahwa masih ada yang perlu dan bisa kita perbaiki ke depan.
Demikian itu adalah fitrah manusia. Selalu muncul dorongan inheren untuk transendensi diri ini. Sebagaimana Abraham Maslow memiliki konsep aktualisasi diri. Bahwa manusia tidak dirancang untuk stagnan.
Lebih jauh, manusia butuh aktualisasi diri. Yakni keinginan untuk menjadi yang terbaik dari dirinya. Kata Maslow, ada kehendak mewujudkan semua potensi, bakat, dan kemampuannya secara penuh.
Begitulah yang saya sampaikan dalam pertemuan ringan dengan teman-teman Pesmadai (Pesantren Mahasiswa Dai), Jumat (30/5/25). Terbukti teman-teman semakin larut semakin melek.
Bukan Aktualisasi Kambing
Kesadaran ini penting, sebab kita tak boleh hidup seperti kambing, yang nalurinya terbatas pada pemenuhan kebutuhan diri sendiri. Sekali lagi. Manusia Allah hadirkan dalam kehidupan dunia ini bukan untuk aktualisasi diri laksana kambing.
Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon. Artinya manusia adalah makhluk sosial. Dalam kata yang lain, kita butuh menemukan kesempurnaannya dalam komunitas dan kontribusi. Kita bukan sekadar hewan yang hanya tahu kenyang.
Lebih lanjut, kita tidak dirancang untuk hidup sendirian; justru, potensi penuh kita sebagai manusia hanya bisa tercapai dalam masyarakat. Melalui interaksi sosial, diskusi, dan partisipasi dalam kehidupan komunitas (mulai dari keluarga, desa, hingga negara). Kita mengembangkan moralitas, etika, akal sehat, dan mencapai kebahagiaan (eudaimonia).
Maka, sebuah keharusan etis bagi kita untuk berpikir bagaimana melahirkan generasi baik ke depannya. Generasi baik itu adalah sosok yang beriman dan bertakwa. Peka terhadap kemajuan namun peduli untuk menjaga alam, minimal lingkungan.
Tetap Melangkah untuk Aktualisasi
Tentu itu harapan besar. Kami sadar itu tak sebanding dengan kekuatan yang kami miliki. Namun, sejarah peradaban dipenuhi kisah individu dan komunitas kecil yang heroik. Keterbatasan sumber daya bukan masalah. Justru dari kondisi terbatas itu, mereka punya bekal visi dan keyakinan kuat. Hal itulah yang mampu memantik perubahan besar.
Kondisi itulah yang saya maksud dengan tetap melangkah untuk aktualisasi. Jangan terkecoh oleh keadaan. Keadaan bisa berubah kapanpun. Tapi yang penting jadi kesadaran adalah apa aktualisasi diri ini.
Dari pergerakan para nabi yang mereformasi moralitas umatnya, hingga gelombang pemuda pembaharu di berbagai zaman, mereka semua membuktikan bahwa keterbatasan materi bukanlah penghalang absolut.
Aktualisasi mereka adalah iman. Yakni keyakinan akan adanya Tuhan Yang Maha Besar, sebagaimana yang kita anut. Itulah yang menjadi sumber kekuatan transendental. Kesadaran yang memunculkan kekuatan. Kekuatan yang melampaui kalkulasi duniawi.
Aktualisasi Bersama
Di tengah derasnya arus individualisme dan distraksi digital yang kerap membius, kesadaran akan tanggung jawab kolektif ini menjadi semakin krusial. Anak muda saat ini tidak cukup hanya menjadi “melek” secara personal, tetapi harus mampu menerjemahkan kesadaran itu menjadi aksi nyata untuk kebaikan bersama.
Tantangan kita bukan hanya memahami dunia, tetapi mengubahnya menjadi lebih baik, sekecil apapun peran yang bisa kita ambil.
Jangan pernah meremehkan kekuatan idealisme yang berlandaskan iman dan ilmu. Warisan terbaik yang bisa kita berikan bukanlah harta, melainkan generasi penerus yang lebih berkualitas. Berkualitas dalam iman dan daya guna. Inilah panggilan sejarah yang juga panggilan masa depan. Panggilan yang menanti jawaban dari setiap kita. Ya, kita, anak muda.*


