Home Opini Aktualisasi Diri, Budak Pun Bisa!
Aktualisasi Diri, Budak Pun Bisa!

Aktualisasi Diri, Budak Pun Bisa!

by Imam Nawawi

Kalimat “Aktualisasi diri, budak pun bisa” lahir usai saya membaca pandangan Abraham Maslow.

Ahli psikologi itu menetapkan bahwa manusia yang jiwanya sehat adalah yang: 1) dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, karena manusia adalah makhluk berkebutuhan. 2) manusia memiliki lapisan kebutuhan yang tersusun secara hierarki. 3) setelah dua kebutuhan di atas itu terpenuhi maka manusia baru bisa masuk tahap akhir, yakni aktualisasi diri.

Tentu saja teori Maslow tak seutuhnya keliru. Karena memang untuk bisa menjadi ahli ilmu Imam Syafi’i saja mensyaratkan enam hal. Mulai dari kecerdasan, keinginan yang kuat, kesungguhan, biaya, dekat dengan guru, serta waktu yang panjang.

Baca Juga: Pemuda Gagap Riset, Kok Bisa?

Beberapa tokoh memang lepas dari ketentuan tersebut, dalam arti tidak belajar secara formal (yang artinya tidak membayar SPP). Seperti KH. Agus Salim dan Buya Hamka. Tetapi keduanya memiliki kecerdasan luar biasa. Namun, siapapun sebenarnya bisa beraktualisasi diri jika memang punya kesungguhan.

Kesadaran

Jika aktualisasi yang jadi bahasan ini bermakna kesadaran untuk menjadi manusia yang punya kebaikan dan kebermanfaatan, maka teori Maslow bisa kita kesampingkan.

Kasus Bilal bin Rabah, ia seorang budak. Akan tetapi, karena reasoning-nya berjalan dengan baik sampai menemukan hidayah, ia tak butuh kaya raya untuk aktualisasi diri. Seketika hidayah masuk ia langsung terbebas pemikirannya dari segala nilai yang tidak relevan dalam diri manusia yang sesungguhnya.

Dan, begitu pun kalau Maslow menempatkan kata aktualisasi diri sebagai kecenderungan kreatif manusia, maka kita lihat pada masa awal dakwah Islam di Madinah, berbagai kemajuan: strategi militer, hingga membangun masyarakat yang cinta ilmu juga berjalan dengan baik.

Artinya akar dari aktualisasi diri bukan materi, akan tetapi kesadaran jiwa akan iman kepada Allah.

Lihat saja sekarang, orang yang tumbuh dari keluarga penuh dengan limpahan harta, kebanyakannya sulit untuk selamat dari cara-cara mencari kekayaan secara “ilegal.”

Maslow

Namun kita tak boleh membuang begitu saja bangunan teori Maslow. Langkah ini penting untuk kita memahami cara berpikir Maslow itu sendiri.

Maslow dengan istilah aktualisasi diri memandang bahwa memang individu tertentu yang tumbuh secara pemikiran, kekayaan, pengaruh dan lainnya lahir dari kalangan elit, kaya, dan tak lagi perlu bertanya, besok bisa makan apa tidak.

Ketika manusia sampai pada level kebutuhan aktualisasi diri orang sudah tidak lagi berpikir sempit, tidak lagi egois. Ia justru butuh merealisasikan nilai-nilai utilitaris.

Dan, Hendro Setiawan dalam buku “Manusia Utuh: Sebuah Kajian atas Pemikiran Abraham Maslow” memberikan catatan terang. Bahwa orang yang bisa sampai ke level aktualisasi diri adalah yang tidak lagi harus berkutat memenuhi kebutuhan dasar.

Tetapi kalau kita ambil contoh dari ceramah Gus Baha, saat ulama-ulama ingin mengecek apakah orang awam, badui, atau di desa punya sistem penjelas tentang Tuhan, rasanya teori Maslow hanya relevan untuk memandang masyarakat Eropa kala Maslow hidup.

Aktualisasi Diri dalam Iman

Ulama itu bertanya kepada penduduk desa, “Bagaimana cara Anda yakin ada Allah?”

Jawaban orang-orang itu ringkas, tegas sekaligus unik. “Jika ada tlethong (kotoran sapi) maka sudah pasti ada sapinya.”

Perhatikan saja sekarang, seorang profesor mulai banyak jadi koruptor. Kemajuan teknologi terutama tambang, membuat alam rusak. Bandingkan dengan orang di desa yang punya iman, mereka cenderung tidak menjadi manusia serakah.

Apa kemajuan berbasis keserakahan itu adalah aktualisasi diri?

Baca Lagi: Siapa Allah itu?

Atau warga biasa, bahkan pembantu rumah tangga sekalipun yang memilih jujur, takut akan akhirat, dan gemar beramal saleh, maka itu sebenarnya wujud dari aktualisasi diri.

Nafas Kehidupan

Namun kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan, bagaimanapun adalah hal penting. Dalam Islam, hal itu secara horizontal bisa dijaga bersama melalui penerapan amal berupa zakat, infak dan sedekah.

Lebih jauh kita punya kebutuhan hidup saling tolong menolong. Anak yatim kita berikan beasiswa, kita dorong bisa belajar ke jenjang terbaik, sehingga mereka tumbuh jadi manusia yang survive. Bahasa Maslow bisa beraktualisasi diri.

Akan tetapi jika kita sadar sebagai insan beriman, paham perintah Allah yang pertama membaca, maka bagaimanapun keadaan diri kita, insha Allah akan terus mampu beraktualisasi diri.

Kita harus ingat, bagaimana dahulu, guru-guru ngaji di desa, di kampung, yang tak punya kekayaan materi, tapi memiliki kedermawanan hati, mampu mencetak anak-anak yang cerdas dan sukses dan berakhlak. Artinya, aktualisasi diri tak harus menunggu rumah megah, kendaraan mewah. Sekarang pun, kita semua bisa melakukannya, insha Allah.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment