Home Kajian Utama Adil Kian Nihil?
Adil kian nihil?

Adil Kian Nihil?

by Mas Imam

Bicara sebab dari segala kekacauan yang terjadi, mungkin jawaban ringkasnya satu kata, “adil.” Tetapi kadang suatu bangsa dan negara berada dalam situasi dan kondisi dimana adil kian nihil.

Menurut Young Person’s Character Handbook, adil berarti memperlakukan orang lain dengan cara yang sama, tidak melebih-lebihkan atau menganakemaskan.

Baca Juga: Maha Adilnya Allah Ta’ala

Kemudian adil juga bisa dimaknai sebagai kemampuan seseorang mengesampingkan segala prasangka dan perasaan yang dimiliki dalam memandang satu hal lebih-lebih dalam memutuskan satu perkara.

Keadilan juga bicara tentang kemampuan seseorang mengukur perihal kepentingan pribadi serta kepentingan umum.

Oleh sebab itu, keadilan mutlak harus ada pada diri pemimpin, pengambil kebijakan serta sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak.

Ketika keadilan redup sinarnya, maka kegelapan akan melanda dan beragam bibit malapetaka tumbuh dimana-mana, sehingga nilai jadi museum dan benda jadi dewa.

Fenomena

Pertanyaannya apakah ada fenomena keadilan yang kian nihil?

Fenomena artinya hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai seecara ilmiah.

Dalam dunia politik dan hukum, kita tidak perlu rincian, sebab fenomenanya memang terpancar kuat bahwa keadilan kian diasingkan.

Kepada yang dianggap memberi keuntungan, hukum menjadi sangat lembut. Terhadap yang dianggap merugikan, hukum benar-benar bagai singa kelaparan.

Bahasa orang di banyak forum, hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Artinya, hukum bukan lagi penegak keadilan, tetapi alat menentukan bahwa yang bukan teman harus dicabut kebebasannya.

Akibatnya nurani penegak hukum menjadi sakit dan perlahan akan sirna. Ketika itu terjadi, maka keadilan tinggallah bunyi-bunyian. Saat itu dibiarkan maka akan berlaku ungkapan yang mengatakan, “Negara yang didasarkan atas ketidakadilan tidak akan kekal.”

Universal

Keadilan menjadi kesadaran universal dan kebutuhan setiap umat manusia. Oleh karena itu, pada dinding jalan masuk utama fakultas hukum Harvard ditulis kutipan ayat Alquran.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.” (QS. An-Nisa: 135).

Hal ini berarti setiap jiwa dan tentu saja setiap bangsa dan negara, kalau ingin sehat kehidupannya, bahagia jiwanya, harus benar-benar komitmen dalam menegakkan keadilan.

Baca Lagi: Jadilah Produsen Gagasan

Semakin seseorang, terlebih seorang pemimpin memandang ketidakadilan sebagai kebaikan, maka semakin jauhlah seseorang dan sebuah bangsa atau negara mencapai kejayaan.

Persis seperti kelelawar yang tak sabar menanti malam, maka sepanjang hari ia mengutuk matahari yang tak pernah mau terbenam. Itulah buah dari ketidakadilan, tersiksa, tertipu dan terpedaya oleh hawa nafsu.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment