Abaikan kata-kata kosong. Mengapa?
Banyak kata-kata yang orang lain ucapkan kadang memang benar-benar kosong. Dalam arti tak memiliki landasan juga tak ada tujuan. Ia berucap, asal saja berucap. Meski demikian, kadang kata-kata kosong menghujam ke dalam hati seseorang. Itulah mengapa ada ungkapan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”.
Dan, seperti kita ketahui bersama. Hidup tidak selamanya berjalan mulus. Bahkan manusia paling mulia, Rasulullah SAW, pernah melewati masa-masa yang sangat kelam dan berat. Beliau menghadapi fitnah keji yang menyerang kehormatan istri tercintanya, Siti Aisyah ra. Bayangkan, seorang Nabi kekasih Allah pun harus menanggung beban batin seberat itu akibat tuduhan yang tidak pantas dari kaum munafik.
Jika Rasulullah saja mengalami ujian berat, apalagi kita.
Gus Baha mengingatkan bahwa ujian terberat memang menjadi jatah para Nabi, kemudian menyusul para ulama dan wali. Sejarah mencatat realitas pahit ini: ada istri Nabi yang melawan suami, ada pula anak Nabi yang membangkang.
Meski demikian itu bukan legitimasi kita boleh bersikap ringan terhadap ketidakbaikan anggota keluarga. Itu adalah pelajaran, tugas kita terus berupaya dan berdoa semoga keluarga kita tetap dalam iman dan kebaikan.
Hakikat Kata-Kata Kosong
Lantas, bagaimana kita menyikapinya? Gus Baha memberikan perspektif menarik tentang kekuatan sebuah “kalimat”.
Beliau membedakan kalimat menjadi dua jenis. Salah satunya adalah kalimat yang sekadar terucap tetapi tidak memiliki “ruh” atau makna hakikat.
Tuduhan zina kepada Siti Aisyah ra contohnya. Kalimat itu memang keluar dari mulut orang-orang munafik dan terdengar menyakitkan. Namun, secara hakikat, kalimat itu tidak memiliki makna di hadapan Allah karena tidak mengandung kebenaran.
Oleh karena itu, jangan biarkan mental kita runtuh hanya karena komentar miring atau fitnah manusia. Kita tidak tahu kapan dan dengan siapa kata-kata kosong itu akan menembak pikiran dan hati kita sendiri. Tapi kalau kita sadar itu kata-kata kosong, kita bisa selamat dari gangguan-gangguan semacam itu.
Anggaplah itu sebagai angin lalu yang tidak memiliki esensi. Selama kita berada di jalan yang benar, perkataan buruk orang lain hanyalah bunyi tanpa kekuatan.
Sungguh yang akan mengubah kita adalah pikiran dan tindakan kita sendiri. Bukan perkataan orang lain, meski itu manis atau sangat pahit sekalipun. Semua itu tidak ada artinya, kecuali kita membiarkan itu masuk menghujam akal dan kesadaran, sehingga kita terluka.
Runtuhkan Ilusi Kekuatan Manusia
Seringkali ketakutan kita muncul karena salah menakar kekuatan. Kita kerap menganggap sosok tertentu—seperti atasan, pejabat, atau bahkan presiden—memiliki kekuasaan mutlak yang bisa menentukan nasib kita.
Padahal, pandangan ini keliru. Coba bayangkan posisi mereka di hadapan Allah SWT. Apakah jabatan mereka bisa menjamin keselamatan diri mereka sendiri? Tentu tidak.
Semua makhluk pada dasarnya lemah. Tidak ada satupun manusia yang benar-benar kuat, meskipun ia memimpin sebuah negara besar. Kekuatan manusia hanyalah ilusi semata jika dibandingkan dengan kekuasaan Sang Pencipta.
Oleh karena itu milikilah budaya membaca, Iqra’ Bismirabbik. Dengan itu kita tak akan terjebak ilusi, tapi terus hadir dalam esensi dan substansi kehidupan.
Berjalanlah Bersama Al-Qawiyyu
Maka, ubahlah cara pandang kita mulai hari ini. Sadarilah bahwa kita memiliki Allah, Al-Qawiyyu (Dzat Yang Maha Kuat). Sandarkanlah segala urusan hanya kepada-Nya, bukan kepada manusia yang sama-sama lemah.
Berjalanlah dengan tegak dalam kebenaran. Jangan ragu meskipun kita harus berjalan sendirian.
Allah pasti akan menemani langkah hamba-Nya yang berjuang di jalan yang lurus. Tekun ibadah, gemar sedekah dan tidak berucap serta bertindak kecuali yang menghasilkan dampak maslahah.
Mulai sekarang, hapus rasa takut kepada manusia dari kamus hidup kita. Kita menjadi kuat karena kita yakin kepada Allah.*


