Mas Imam Nawawi

- Hikmah

Jangan Buta Nikmat Jika Ingin Selamat

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo belum lama ini mengatakan melalui Tempo (Jumat, 2 Januari 2026) bahwa biaya politik dalam proses pilkada kerap menjadi alasan “rasional” mengapa kepala daerah melakukan korupsi. Para koruptor dengan jabatannya berpikir ingin segera kembali modal. Seperti yang baru ini terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, yaitu Bupati Lampung Tengah. Alih-alih memahami […]

Jangan Buta Nikmat Jika Ingin Selamat

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo belum lama ini mengatakan melalui Tempo (Jumat, 2 Januari 2026) bahwa biaya politik dalam proses pilkada kerap menjadi alasan “rasional” mengapa kepala daerah melakukan korupsi. Para koruptor dengan jabatannya berpikir ingin segera kembali modal. Seperti yang baru ini terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK, yaitu Bupati Lampung Tengah. Alih-alih memahami dan bekerja sesuai amanah, mereka justru terjebak dalam cara berpikir serakah.

Sejak Februari-Maret 2025, Bupati Lampung Tengah memerintahkan anggota DPRD Lampung Tengah RHS untuk mengatur pemenang proyek melalui mekanisme penunjukan langsung di e-Katalog. Jelas dalam hal ini ada perusahaan tertentu yang harus dimenangkan.

Kebutaan Hati

Manusia dalam Islam harus berupaya untuk terus waspada terhadap kondisi hati yang buta, utamanya buta terhadap hakikat nikmat.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa nikmat itu berupa kesenangan ragawi dan juga kebahagiaan atau ketenteraman batin. Begitu pula dengan pandangan Ibn Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Shalihin. Nikmat itu bisa berupa lahir dan juga batin.

Sedangkan Ibn Athaillah memandang bahwa nikmat itu adalah segala kondisi yang kita respon secara positif untuk tazkiyatun nafs (mensucikan jiwa).

Namun, hal ini tidak akan menjadi acuan kalau hati seseorang telah buta akan nikmat yang sejati. Orang cenderung akan memandang harta dan jabatan sebagai kenikmatan besar.

Padahal sejatinya ketika itu terjadi dalam hidup seseorang, ia tengah terperosok pada yang namanya ilusi kosmik. Yaitu kesadaran manusia yang memandang hanya harta yang akan memberi kebahagiaan dan ketenangan. Padahal sifat harta itu semu dan sangat semantara.

Dan, seperti orang yang kecanduan narkoba, apa yang orang sebut dengan materialisme juga membutakan hati, mematikan akal dan mencerabut kemanusiaan dalam diri seseorang.

Kuatkan Syukur

Dengan demikian, mari sejenak menarik napas. Berikan kesempatan akal bekerja dan hati memahami hakikat nikmat dalam kehidupan ini.

Terlebih kalau menyadari kehidupan sehari-hari warga pascabencana di Aceh dan Sumatera. Yang paling utama bagi mereka adalah bagaimana bisa makan dan minum.

Jadi, untuk apa manusia berbondong-bondong ingin hidup mewah, ingin tampil wah. Toh pada akhirnya kalau sudah tiba masanya kekuasaan hilang, kekuatan lenyap, manusia hanya memerlukan makan dan penghormatan.

Tapi satu hal, penghormatan setiap anak manusia hanya akan bertahan kalau dia tidak melakukan tindakan-tindakan buruk yang berangkat dari hati yang buta dan akal yang mati. Belum lagi nanti pada alam akhirat, setiap kepemimpinan mendapatkan pentas pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT.

Jadi, mari perkuat syukur kepada Allah. Hanya itu yang membuat setiap orang bisa selamat dari cara berpikir serakah.*

Mas Imam Nawawi