Home Artikel 3 Rumus Hidup Bahagia yang Manjur
3 Rumus Hidup Bahagia yang Manjur

3 Rumus Hidup Bahagia yang Manjur

by Imam Nawawi

Tema bahagia seperti harta, banyak orang yang mencarinya. Namun seperti rezeki, tak semua orang bisa merengkuhnya. Apakah karena bahagia memang susah diperoleh? Saya kira kita perlu paham rumus bahagia itu sendiri.

Moral

Pertama, kekuatan terbaik untuk munajat kepada Allah adalah moral. Oleh karena itu jangan terlalu terobsesi dengan hasil, perhatikan proses, karena akhlak adalah kunci hidup sukses sejati.

Semua Akan Berakhir

Kedua, semua hal di dunia akan berakhir, termasuk luka, krisis ataupun pedih dan sengsara yang membebani hati.

Baca Juga: Bencana Alam, Bukan Sebab Empiris Semata, Lalu?

Tidak ada orang sedih terus menerus. Oleh karena itu kita selalu dapat berita orang yang dahulu miskin kemudian menjadi kaya. Memang itu sunnatullah kehidupan.

Berita terbaru soal itu ada pada sosok David Steward dari Missouri, AS. Ia mempelajari hidup Nabi Nuh as, kemudian ia tekun untuk menempuh jalan yang banyak orang menertawakannya.

Namun kemudian ia menjadi sosok pengusaha sukses. Perusahaannya World Wide Technology (WWT) menjadi yang terbesar ke-27 di AS dari kalangan orang kulit hitam. Besar pendapatnya mencapai Rp. 265 triliun.

Dan, catatan yang harus kita tebalkan adalah, Steward mencapai itu semua setelah jatuh bangun, hidup dalam kemiskinan dan penuh penghinaan.

Ia berkata, “Saat kamu punya ambisi besar, orang cenderung akan meledek kamu. Mereka menjadi paling sering bersuara dan sok menilaikamu. Bahwa kamu tidak seharusnya mengejar mimpi dan ambisi kamu.”

Sanggup Menanggung

Ketiga, kita mampu menghadapi masalah.

Saat orang membanggakan akal, mereka lupa bahwa seperti tubuh, akal bisa lelah. Saat akal lelah, orang yang paling intelektual pun bisa memilih putus asa, sampai bunuh diri.

Pada tahun 2018 ada tiga mahasiswa Universitas Padjadjaran yang bunuh diri di kamar kosnya. Konon mereka terbebani oleh tuntutan orang tua untuk cepat lulus, sulit menemui dosen, hingga skripsi yang ditolak.

Kalau secara logis kita bisa ajukan pertanyaan: “Mengapa tidak mencari metode lain untuk bisa cepat lulus, mudah ketemu dosen dan segera rampung skripsinya?”

Orang seperti itu memilih putus asa, karena lupa atau tidak tahu, bahwa semua masalah telah Allah takar untuk mereka, termasuk masalah yang kita hadapi.

Kadang memang muncul pikiran, bisakah saya mengatasi ini? Jika bersandar pada akal, akal akan terus bertanya dan memikirkan. Tetapi kalau ia melangkah untuk taqarrub, keajaiban apa yang Allah tidak punya!

Tetap Tegar dan Tenang

Oleh karena itu menarik nasihat dari Khalid bin Shalih Al-Munif sosok Psikolog dan Motivator Timur Tengah dalam bukunya “Perbesar Otakmu”.

Baca Lagi: Menyepelekan Jiwa Artinya Mengorbankan Masa Depan Bahagia

“Jika kecemasan Anda bertambah dan malam terasa panjang, jangan bebani pikiran, jangan menyimpang dari pikiran, jangan menyerah pada perasaan, dan jangan kehilangan kesabaran. Sebaliknya, tetaplah tegar dan tenang, dan yakinlah bahwa hari esok pasti berbeda.”

Jadi, cobalah membuka hati, membuka kembali lembaran-lembaran kitab suci, baca dengan pemaknaan, antusias tinggi untuk memahami dan merasakan lansung keindahan pengamalannya.

Sebab kalau tidak jiwa akan buta karena sombong, tak mau menerima “hidangan” dari Tuhan.

Kata Stephen R. Covey dalam bukunya “Menerapkan 7 Kebiasaan dalam Kehidupan Sehari-hari” jangan sampai diri ini jadi pribadi sombong. Karena sombong adalah jalan yang membuat banyak individu, organisasi, keluarga, dan pernikahan menjadi menyimpang dari kebenaran. Dampaknya jelas, kebahagiaan akan semakin jauh dan bahkan hilang.*

Mas Imam Nawawi

Related Posts

Leave a Comment