Home Opini Kenapa Sewot dengan Film Dirty Vote?
3 Fakta Penting Film Dirty Vote

Kenapa Sewot dengan Film Dirty Vote?

by Imam Nawawi

Film Dirty Vote kini ramai jadi perbincangan publik. Film yang tayang perdana di Youtube 11 Februari 2024 itu telah menyedot perhatian nyaris semua kalangan. Dan, satu hal yang saya anggap penting adalah 3 fakta yang ada dalam film itu. Mungkin dari sini kita akan bisa melihat, mengapa ada yang sewot dengan Film Dirty Vote itu.

Pertama, ada tiga pakar hukum tata negara. Ketiganya mengungkap data kecurangan dalam proses pemilihan presiden tahun 2024.

Ketiga pakar itu adalah Bivitri Susanti, Feri Amsari, dan Zainal Arifin Mochtar.

Tentu saja tiga orang itu rela membuat sebuah karya seperti itu karena dorongan hati nurani, mendorong pelaksanaan Pemilu 2024 berjalan bebas dan adil.

Apa iya, sekelas pakar, cuma mau bikin gaduh, apalagi sekadar iseng?

Baca Juga: Etik yang Tak Berkutik

Dan, yang menarik mereka adalah ahli hukum tata negara. Dalam kata yang lain, mereka telah berhitung terkait kemungkinan konsekuensi “terburuk” jika ada sikap yang irasional dari kelompok yang tidak sependapat.

Cegah Kecurangan

Fakta kedua dari film ini memungkinkan langkah pencegahan terhadap upaya terjadinya kecurangan.

Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi, Muhammad Ihsan Maulana mengatakan hal itu.

“Tentu saja film ini merupakan peringatan kepada siapa saja yang hendak melakukan kecurangan khususnya di tahapan pemungutan, penghitungan dan rekapitulasi hasil,” ujar Ihsan seperti dikutip BBC.

Kecurangan itu aspek pemikiran, motif, yang mewujud dalam bentuk keberpihakan penyelenggara pemilu, sehingga merekayasa terjadinya pelemahan pengawasan pemilu dan seterusnya.

Film ini akan menjadi sebuah pemberi warning kepada siapapun bahwa Pilpres 2024 itu harusnya berjalan jujur, adil dan bebas, utamanya bebas dari kecurangan.

Etika

Film Dirty Vote secara substansial (ini fakta ketiga) sebenarnya mengingatkan kita semua untuk berubah, menjadi bangsa yang menjunjung tinggi etika. Terlebih dalam hal menentukan siapa presiden Indonesia dalam 5 tahun mendatan.

Jadi, film ini bisa kita sebut jadi kebutuhan rakyat. Namun, kita juga melihat ada pihak yang tak menyukai. Mereka langsung meluncurkan berbagai tudingan. Baik kepada para pelaku, produser dan sutradara film tersebut.

Baca Lagi: Suara Akademisi, Masihkah Punya Signifikansi?

Indonesia akan maju bukan hanya karena siapa presidennya, bagaimana struktur pemerintahannya. Akan tetapi Indonesia pasti lebih baik, jika proses-proses demokrasi tidak mencederai apalagi mengabaikan etika.

Akan tetapi inilah Indonesia, beginilah demokrasi, setiap hal ada pro-kontra. Tinggal mana yang mampu bersikap adil, rasional dan tentu saja bijaksana dalam menyikapi film itu.

Lantas, apa pandangan sahabat sekalian terhadap film yang menggemparkan itu?*

Mas Imam Nawawi

 

Related Posts

Leave a Comment